Minggu, 15 Agustus 2010

Journal: King Of The Hill (Part. I)

Istana Pagaruyung

Suatu hari, sekelompok orang yang berlayar datang dari jauh ke Batusangkar. Mereka melihat-lihat sekitar pedesaan dan kehidupan orang-orangnya. Kehidupan rakyat disini memang masih tertinggal jauh dengan kehidupan rakyat di tempat kita, ujar seseorang diantaranya. Mereka masih bodoh, tidak seperti kita, kita bahkan sudah mengelilingi nusantara ini, kata seseorang lagi. Hingga perkataan-perkataan itu sampailah ketelinga para petinggi tanah Minang dan mereka menyampaikan keberatannya atas ucapan saudagar-saudagar itu. Lalu para saudagar itupun tak terima dengan pernyataan keberatan tersebut, dia tetap ingin membuktikan bahwa orang-orangnya lebih unggul, maka para saudagar itu menantang para penduduk untuk menunjukkan kehebatannya. Kesepakatan pun terjadi, hasilnya mereka akan mengadu dua ekor kerbau, kerbau pilihan mana diantara keduanya yang lebih kuat. Para saudagar mempunyai seekor kerbau jantan perkasa yang bertubuh besar dan kuat, tanduknya juga panjang, siapapun yang melihat akan terkagum. Sementara itu, rakyat desa berkumpul dan memikirkan kerbau yang bagaimana yang akan diadu dengan kerbau mereka, karena mungkin mereka tak memiliki kerbau setangguh itu. Hari penentuan pun terjadi, kedua kelompok tersebut berkumpul, para saudagar mengeluarkan kerbau andalannya, sedangkan penduduk mengeluarkan seekor anak kerbau yang baru beberapa hari dilahirkan. Tentu saja hal itu menjadi bahan ejekan bagi para sudagar, dan mereka merasa pasti menang. saat kedua kerbau ingin dilepas penduduk memasangi pisau pada kepala anak kerbau tersebut, lalu kedua kerbau pun saling mendekat, tiba-tiba anak kerbau yang baru berumur beberapa hari tersebut mengejar-ngejar kearah bagian bawah perut kerbau besar tadi, anak kerbau itu mengira kerbau itu adalah induknya sehinnga dia ingin menyusu, maka terjadilah hal yang tak pernah disangka para saudagar, anak kerbau itu menyuruk dan mengayun-ayunkan kepalanya kearah perut kerbau sehingga terkoyak-koyaklah perut kerbau tersebut karena pisau yang dipasangkan pada kepalanya, maka kerbau besar itupun mati. Melihat itu, rakyat bersorak, akhirnya kecerdikan meraka dapat membungkam perkataan para saudagar tadi. Rakyat gembira dan berteriak Menang Kerbau..! Menang Kerbau..! yang sampai saat ini diyakini sebagai dasar kata Minangkabau.

Menghabiskan beberapa hari di Bukittingi sungguh menyenangkan, bangunan-bangunan kota bergaya dulu, taman-taman indah yang dpenuhi burung merpati, masakan minang yang enak, serta orang-orang yang ramah yang tak kami jumpai sebelumnya dikota-kota sebelumnya juga. Karena telah merasakan pengalaman itu, jarum kompas kamipun kembali bekerja, kali ini jarum menunjuk kearah tenggara, tempat dimana gunung Merapi berdiri tangguh, ya, kami menuju kesana, tepatnya kota dibalik kaki gunung itu, Batusangkar. Kota ini dulunya adalah pusat pemerintahan kerajaan, terletak di kabupaten Tanah Datar, sekitar 2-3 jam perjalan dengan bus dari Bukittinggi. Suhunya tidak sedingin di Bukittinggi, disini lebih hangat, hamparan sawah yang indah mengelilingi kota ini. Satu hari kami habiskan di kota ini, beikut adalah beberapa tempat yang kami jelajahi.

Masjid ini adalah masjid tertua di Batusangkar, umurnya sudah mencapai 300 tahun. Masjid ini bernama Masjid Raya Lima Kaum, didirikan oleh para pendatang dari jazirah Arab yang berdagang sambil menyiarkan Islam. Struktur bangunannya sangat kokoh, dibagian dalam terdapat tiang-tiang penyangga yang terbuat dari kayu pilihan yang sampai sekarang tak pernah dimakan oleh rayap, memnurut sumber yang kami dapatkan, bahan-bahan bangunan untuk membangun mesjid ini adalah bahan pilihan, contohnya saja tiang-tiang masjid, yang sebelum dipakai terlebih dahulu direndam selama sepuluh tahun. Setiap tiang adalah satu pohon yang sekarang ini pasti sangat sulit mencarinya, berdiameter besar, lurus dan panjang sampai sepuluh meter. Lantainya juga terbuat dari kayu yang juga masih kokoh.

Penanda kota Batusangkar atau juga penanda Sumatera Barat adalah Istana Pagaruyung (Istano Basa Pagaruyung). Dahulu, istana ini adalah pusat pemerintahan kerajaan atau kesultanan. Kalau di Deli kita akan mengacu ke Istana Maimun, yah, sama seperti itu lah. Istananya sangat megah, struktur asli tetap dpertahankan seperti atap yang terbuat dari serat pelepah Aren (Ijuk). Interior nya juga mengaggumkan, perlatan sehari-hari kerajaan yang eksotis dan perabotannya yang mempunya ciri khas percampuran beberapa budaya. Saat mengambil gambar-gambar di istana cuaca cukup terik, maklum, kami kesana pada pukul sekitar 12 siang, hehe. Kami bertemu dengan seorang Ayah dan anak perempuan kecilnya, bercerita panjang lebar, tentang darimana kami, dan apa saja yang ada di Batusangkar, yang membuat kami nyaman, bapak tersebut meladeni kami dengan bahasa Indonesia, maklum selama di provinsi ini, kami sangat mengalami kesulitan dalam berkomunikasi. Mereka berdua sangat ramah, bapak itu juga menceritakan pengalamannya dulu ke Medan. Yang lebih asik lagi, Nabila kecil, anaknya, sangat tergila-gila dengan fotografi juga, ayahnya bercerita: wah, kalau Nabila suka sekali itu, HP saya aja memorinya penuh karena dia suka foto. Sungguh jaranag saya melihat yang seperti Nabila, umurnya baru sepuluh tahun, entah apa yang membuatnya suka mengambil gambar. Karena penasarannya itu, sayapun meminjamkan kamera kepadanya, lucu juga melihatnya, kamera terlalu besar buatnya, dan dia terlihat agak keberatan memegangnya. Nabila berkeliling-keliling sekitar istana mencari sudut terbaik, hehe. Saya, Rudi dan ayahnya hanya tersenyum-senyum saja melihat tingkahnya. Dia juga mengambil beberapa gambar saya dan Rudi, hehe.










Selanjutnya perjalan berlanjut dengan lebih seru, karena anggota bertambah, Nabila dan ayahnya. Awalnya kami segan saat ayahnya menawari: mau keliling-keliling Batusangkar ya? kan baru pertama kali kesini, ayo saya bawa ke tempat-tempat bagus (dengan bahasa Indonesianya yang terlihat agak bersusah payah, hehe). Kami menolak, wah, pak terima kasih banyak, biar kita jalan sendiri aja. Bapak itu meyakinkan kami, yah, dari awal kami juga mau sekali, tapi ya namanya juga jual mahal, saat itu kami terkagum dengan keramahan masyarakat disini. Saat diperjalanan, dia bercerita, saya juga sekalian bawa Nabila jalan kok, soalnya dari Senin sampai Sabtu saya bekerja di Padang, jadi Minggu saya habiskan buat Nabila dan Ibunya. Sampai di kompleks prsasti Adityawarman. Sedikit aneh saat pertama kesini, karena yang saya tau nama-nama seperti Adityawarman, Sri Wulaningsih, Aryanegara dan lain-lain berasal dari tanah Jawa yang jauh. Kebingungan saya tersebut akhirnya jelas juga setelah membaca terjemahan dari salah satu prasati. Prasasti-prasasti tersebut dituis dengan huruf Kawi dengan bahasa Sansekerta dan Jawa Kuno, salah satunya berisi tentang cerita Raja Adityawarman yang berlayar dari Majapahit dan menikahi putri Melayu lalu membangun kerajaan di tanah ini. Wah, jadi istana Pagaruyung tadi tempat mereka berkuasa. Setelah itu perjlanan kami lanjutkan ke Makam Raja-Raja. Ada juga tempat rapat para wakil rakyat jaman dahulu, hanya beberapa batu yang disusun melingkar, wah, kalau para wakil rakyat sekarang rapatnya Full AC, kursi nyaman, udah gitu masih suka tidur dan absen lagi, wah.. wah.. wah.
Sawah-sawah di Batusangakar sangat indah menurut saya, dan saya memang menyukai pemandangan hamparan sawah. Rasanya damai apabila berdiri ditengah-tengah merasakan angin perlahan. Melihat aktivitas petani-petani, anak-anak brlarian, rasanya ingin berlama-lama disini. Kota ini eksotis, kata Rudi, kalau saya: kota ini damai. Nabila: nanti kapan-kapan main kesini lagi ya Om..! katanya kepada kami berdua, wah pasti Nabila, rajin-rajin sekolah yaaa..!
Kata orang, tidak lengkap apabila ke Sumatera Barat tidak Mandi di Danau Singkarak dan mencuci muka di Lembah Anai. Wah, kami jadi makin penasaran nih, next post kami akan menceritakan pengalaman kami disana, Salam Jepret..!

6 komentar:

  1. salam sobat
    istana Paganuyung indah dan megah ya,,
    batusangkar yang indah juga
    jadi pingin kesana,,
    selamat berpuasa.

    BalasHapus
  2. Wah.., jadi pengen ke Bukittinggi nih. Pengen ke Danau Singkarak... :)

    BalasHapus
  3. mbak nura: iya mbak, batusangkar indah, asik buat backpackeran..

    BalasHapus
  4. bu reni: iya, salah satu danau yang indah di sumatera barat itu bu..

    BalasHapus
  5. halo bro...
    seandainya saya bisa kesana, pasti juga saya tulis di blog.
    semoga ada kesempatan.

    BalasHapus