Rabu, 01 Februari 2012

Ironis: Kalau Bisa Dipersulit, Kenapa Harus Dipermudah?

Sering kali, banyak hal yang dapat dengan mudah kita mengerti walaupun hal tersebut tidak bersesuaian dengan pola fikir dan kebiasaan kita. Kemungkinan karena hal tersebut selama ini hanya kita ketahui dari luarnya saja dan biasanya kita tidak terlibat secara langsung dalam prosesnya. Contohnya seperti seorang pemuda yang selama ini belajar di sebuah instansi pendidikan tinggi. Sebelumnya pemuda itu pasti menerima banyak didikan formal dan sedikit banyak belajar tentang ilmu manajemen karena tugas-tugas atau organisasinya. Lalu setelah beberapa waktu, pemuda tersebut akan mengurus Surat Izin Mengemudi. Setelah mempersiapkan semua persyaratan, lalu dia dihadapkan oleh sederetan proses panjang yang biasanya sangat sulit. Di tempat itu juga, pemuda tersebut bertemu dengan "orang dalam" (istilah yang biasa dipakai untuk orang yang menerima imbalan dengan berbuat kecurangan untuk mempercepat proses). Lalu "orang dalam" tersebut menawarkan jasanya dengan pertama kali menjelaskan betapa sulitnya proses ini (sengaja dipersulit? mungkin), seketika pemuda tersebut tertarik lalu tanpa berfikir panjang, dia membayar orang tersebut. Dengan biaya sekitar tiga kali lipat dari pengurusan secara normal, lalu sekitar 2 jam kemudian akhirnya SIM itu selesai dan diantarkan langsung oleh orang tersebut ke pemuda tadi.

Ya, itu salah satu contoh nyata yang benar-benar saya ketahui, karena saya mengenal pemuda yang menyedihkan itu. Entah bagaimana hal itu tetap saja tidak dapat saya terima dengan akal sehat: seorang pemuda yang pastinya masih sangat muda dari segi umur, sudah memilih untuk melakukan korupsi. Tetapi, secara keseluruhan saya tidak menyalahkan dia, pertanyaannya: mengapa proses tadi harus sulit? (saya tau dengan pasti, setidaknya saya juga mengetahui beberapa orang yang gagal sekitar dua kali dalam pengurusan, dan ketika menggunakan jasa "orang dalam" dia berhasil). Hmm, jadi sedikit konklusinya: mengapa harus korupsi? karena keadaan memaksa, mendukung, dan sudah mengakar untuk melakukannya.

Bicara tentang keadaan, ada sangat banyak hal juga yang dulunya sebenarnya sudah saya ketahui tetapi ya karena itu tadi, saat dulu saya tidak terlibat langsung didalamnya, hal tersebut sangat tidak bersesuaian dengan pola fikir saya. Sejak dulu saya sudah tahu, jika ingin memperlancar sebuah urusan maka diperlukan biaya lebih. Dan biasanya hal tersebut dilakukan dengan cara-cara yang tidak terdapat dalam aturan. Kita sebut saja sebuah proses loby atau negosiasi, karena saat ini saya bekerja dalam sektor yang sangat sensitif yaitu keungan. Interaksi dengan hal tersebut menjadi sering ditambah dengan masuknya saya dalam Risk Management Team yang biasanya melakukan verifikasi sangat ketat, beberapa orang juga menyebutnya Lubang Jarum. Sebuah perbedaan visi yang cukup jelas terlihat dari Bussiness Management Team yang menginginkan banyaknya transaksi keluar dari dana funding. Dan tentang keadaan tadi, memang proses verifikasi sangat ketat dan lumayan sulit. Yah, saya hanya berharap dapat bekerja dengan konsisten dan memberikan yang terbaik yang dapat saya lakukan, setidaknya sampai dimana saya tahan, hehe.

Jadi kalau bicara tentang hal yang ironis sih sangat banyak, apalagi di negeri yang kita cintai ini. Karena hal tersebut bahkan terjadi di instansi-instansi pendidikan dari mulai sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Kalau menurut saya sih, memang hal tersebut sudah mengakar dan menjadi budaya (budaya yang ini asli negeri kita lho..!), tapi bukan berarti kita jadi pesimis kan?. Menurut saya, gak masalah buat perbedaan, gak masalah jika terasing, walaupun sudah mengakar, bukan berarti tidak bisa dihilangkan kan?. Karena sepengetahuan saya Rasulullah itu orang yang terasing, tapi karena Allah dan konsistensinya lah maka Islam bisa maju. Saya sangat malu, karena sangat jauh dari contoh teladan beliau. Mungkin saya juga sering terlibat seperti hal-hal diatas tadi, tapi jika ada kemauan, saya yakin ada jalan. Benar kan sahabat-sahabat?

"Allah bersama orang-orang yang berusaha keras.." -Kak Pipit

20 komentar:

  1. Hahaa.... SIM ku aja udah mati 3 tahun, aku masih ogah-ogahan nyari SIM baru. Susah sih.... udah beberapa kali nyari, tapi ada aja yang disulit2kan. ya udah, sekarang kmn-mana gak pake SIM. hahha

    BalasHapus
    Balasan
    1. hah..? sejak kapan blogger bisa balas komen langsung nih..? hehe

      mbok ya diurus tho mas, itu kan demi kebaikan kita juga..

      Hapus
  2. intinya, jangan menyerah hanya karena ingin mudah ya Yud... semoga orang2 yg konsisten selalu dimudahkan Allah, amin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. mbak tia: iya mbak, keep fight..!

      mas abi: amiin..

      Hapus
  3. setidaknya sampai dimana saya tahan, hehe. => semoga iman tetap kuat menghadapi segala cobaan yang memang begitu dekat dangan kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah betul juga mbak, saya harus tahan..

      Hapus
  4. aku juga kecewa karena negara ini semua kalangan atas/bawah berlomba-lomba korupsi :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener mas, kayak balap karung aja..

      Hapus
  5. benar mas.. the show must go on. :)

    BalasHapus
  6. Makanya saya ingin mengatakan bahwa orang indonesia (sebagian besar) adalah kemarok harta, jabatan, dan ketenaran. Itu sebabnya agak ingin meludah di depan orang yang seperti ini, termasuk dengan saudara sendiri yang melakukan hal ini.

    BalasHapus
  7. Pakdeku malah sempet bilang gini ke aku: di luar negri sana aku punya SIM Internasional dan bikinnya gak ada sehari waktu aku masih kerja disana, tapi di Indonesia 10 kali bikin SIM 10 kali juga aku gak lolos buat dapet SIM, Uedan tenan... dan sampe sekarang dia gak punya SIM apapun.... ya itulah Indonesia sob...

    Gimana kabarnya sob??? maaf nih aku baru bisa mampir lagi...

    BalasHapus
  8. birokrasi negara kita ya begitu itu yud...
    entahlah

    BalasHapus