Senin, 04 November 2013

Expedition Bahal Temple


Assalamualaikum..! Bagaimana hari Minggunya sahabat-sahabat? kalau saya baru pulang dari serangkaian perjalanan atau lebih tepat disebut ekspedisi dadakan yang sangat menyenangkan bersama teman baru saya, Anwar. Dia ini baru berteman sih sama saya, yah kenalnya lewat blogging-an juga, ternyata kita memiliki beberapa kesamaan, yaitu suka hal-hal klasik, sedikit bersejarah dan jalan-jalan. Singkat cerita, kami sering ngobrol soal tempat-tempat yang belum kami kunjungi sambil ngopi asik malam-malam. Kami rasa Candi Bahal / Portibi adalah pilihan yang cocok untuk sekedar jalan-jalan sambil belajar, yang terletak di kota Gunung Tua, ibu kota kabupaten Padang Lawas Utara yang berjarak sekitar 3 jam dari kota kami Rantauprapat. Awalnya tau dari teman sih, terus googling, dan informasinya ternyata kurang banyak. Setelah atur-atur plan dikit, kami berangkat jam 7 pagi.

Candi Bahal I

Kami sampai di kota Gunung Tua sekitar jam 09:15, dari kota kecil tersebut kita masih harus menempuh perjalanan menuju Kecamatan Portibi, dari simpang Portibi sendiri ke lokasi candi perlu sekitar 20-menitan. Sepanjang jalan dari mulai Rantauprapat sampai di lokasi komplek candi, kondisi jalannya cukup bagus, tapi jangan tergiur buat balapan ya.

Candi Bahal I

Saya kutip penjelasan bebas dari Wikipedia ya: Candi Bahal, Biaro Bahal, atau Candi Portibi adalah kompleks candi Buddha aliran Vajrayana yang terletak di Desa Bahal, Kecamatan Padang Bolak, Portibi, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, yaitu sekitar 3 jam perjalanan dari Padangsidempuan atau berjarak sekitar 400 km dari Kota Medan. Candi ini terbuat dari bahan bata merah dan diduga berasal dari sekitar abad ke-11 dan dikaitkan dengan Kerajaan Pannai, salah satu pelabuhan di pesisir Selat Malaka yang ditaklukan dan menjadi bagian dari mandala Sriwijaya. Candi ini diberi nama berdasarkan nama desa tempat bangunan ini berdiri. Selain itu nama Portibi dalam bahasa Batak berarti 'dunia' atau 'bumi' istilah serapan yang berasal dari bahasa sansekerta: Pertiwi (dewi Bumi). Arsitektur bangunan candi ini hampir serupa dengan Candi Jabung yang ada Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Hmm, kalo menurut kami sih, dari seni dan arsitekturnya candi ini masih kental sama pengaruh Hindu, bisa dilihat dari relief yang menggambarkan setengah manusia setengahnya lagi gajah, atau binatang lainnya. Tapi ngapain serius amat sih, yang penting kan kalo udah jauh-jauh itu harus narsis, hehe.


Saya kurang tau sih kapan tepatnya candi ini mulai dibangun, tapi sepertinya dahulu kala, jauh sebelum Islam mendominasi wilayah ini, sepertinya peradaban kepercayaan Budha ini sempat berjaya dan membangun peradabannya disini. Pastinya masih banyak situs bersejarah yang mungkin sudah tertimbun dan tidak dapat diidentifikasi lagi.


Candi Bahal II

Mungkin emang benar kali ya, jaman dulu itu status atau kasta berlaku di masyarakat. Menurut pandangan saya sih, tempat-tempat seperti ini pasti erat kaitannya dengan ritual religi dan sebagainya. Dan, Candi Bahal II atau candi selanjutnya ini terlihat lebih kecil dari yang pertama, apa ada kaitannya dengan status masyarakat kuno jaman dulu itu ya, yang pertama untuk kelas atas, yang ini untuk pejabat biasa, siapa tau? hehe (kok jadi sok tau saya).


Candi Bahal II ini terletak sekitar 300 meter lah dari Candi Bahal I, letaknya di tengah persawahan nan hijau dengan angin sepoi-sepoi, ahay. Disini terdapat beberapa ornamen yang tidak kita temukan di candi pertama, hmm, mungkin merujuk ke fungsi dan peruntukannya pada jaman itu kali ya.

Salah satu bangunan di samping Candi Bahal II
Candi Bahal II
Si Anwar yang kaku, hehe

Candi Bahal III

Nah, kalo yang kedua aja udah di tengah sawah, yang ketiga ini lebih ke tengah sawah lagi, hehe. Ya, kita perlu sedikit usaha menuju Candi Bahal III, selain sarana jalan yang masih tanah (maklum kok, capek nyalahin pemerintah terus), kalo udah abis ujan itu loh, buecek minta ampun, tapi sukurlah, walaupun tadi ada bechek, yang penting ada ojhek, eh, yang penting kita tetap bisa masuk.

Candi Bahal III

Tadi kan interpretasi konyol saya ada nyinggung soal kasta, nah ini semakin memperkuat hipotesis prematur saya. Yah, semakin ke dalam, terpencil, bentuknya semakin kecil dan sederhana. Jadi, kalo yang pertama dipake sama Raja dan bangsawan, yang kedua sama pejabat biasa, nah yang ketiga ini mungkin buat para babu, jongos, dan rakyat jelata lainnya, hehe. Hmm, tapi sahabat-sahabat jangan termakan ya sama pemikiran busuk saya itu, hehe.

Tetep aja kaku :p
I'm God of War..! haha..! (kebanyakan main PS)

Dari informasi-informasi yang kami coba ikutin, semua peninggalan sejarah ini sepertinya merujuk ke satu pola peradaban yang memiliki kemiripan dengan yang ada di tempat lain di Indonesia, yang jelas memang pengaruh Hindu-Budha memang pernah memiliki masa-masa keemasan yang tersebar hampir di semua pulau nusantara. Yah, kita sebagai penerus (nerusin apa?), kalau tidak bisa menjaga, ya jangan ngerusak donk, agak sebel kadang liat tingkah orang kampungan yang masih aja suka ngerusak situs bersejarah kayak mencoret lah, mencuri patung lah, gak manusia banget ya. O iya, semua foto-foto yang saya tampilin ini cuma sedanya dari kamera HP, dengan alasan sederhana: untuk narsis-narsisan kamera HP paling mobile dan efisien, hehe. So, tetep berkelana ya, jelajahi terus kekayaan tersembunyi negeri kita ini. Saatnya pulaaang..!

Salam Dangdut dari saya.. :)

45 komentar:

  1. walaupun tampak kusam, candi ini kelihatan masih terawat yah, terlihat dari sekelilingnya yang bersih, rumput juga terlihat rata, ga tahu aslinya sih hehe...

    eh kok sepi yah candinya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, denger-denger kabar sih,
      setelah pemekaran jadi kabupaten baru mereka sedikit lebih konsen merhatiin sarana candi ini, iya emang sepi, jadi pas buat narsis2an..

      Hapus
  2. loh ada candi toh disana... baru tahu nih ....
    makasihnya informasinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. ada donk mbak, iya gak terlalu terkenal soalnya..

      Hapus
  3. di padang sana ternyata pernah di singgahi ajaran agama hindu/budha to, dalam buku sejarah sd saya yang tidak masuk pelajarannya atau memang saya yang malas baca ya?hehehe.
    asik mas, saya juga suka ekspedisi tempat bersejarah. bagus banget.
    kok pake salam danggut mas? dangdut koplo kah, hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau maksud sampeyan itu Padang - Sumatera Barat saya mau koreksi, percandian ini terletak di Kecamatan Portibi, Kabupaten Padang Lawas Utara, Provinsi Sumatera Utara,
      iya, banyak daerah ekspansi Hindu - Budha tidak terkurikulum di SD, paling hanya pusat penyebarannya saja, masih ada ratusa lagi yang tersebar, kalau mau lebih detil tidak bisa mengacu ke sejarah di buku SD, tapi yang lebih advanced lagi..

      Hapus
    2. coba di eksplore lagi mas yud biar saya tahu keadaan di sumatera utara

      Hapus
    3. iya, lagian budget saya emang sanggupnya di sekitaran Sumatera Utara saja, hehe..

      Hapus
    4. mungkin yang dimaksud om agus itu, disana pusat penyebaran ekspansi warung padang ke seluruh penjuru negeri :D

      Hapus
    5. berarti setidaknya Nasi Padang bisa ambil bagian dalam penyatuan dan pembentukan Nusantara yang kita tinggali sekarang ini..

      Hapus
  4. wah cantik dan unik sekali ya mas candi bahal ini...pemandangan di sekitarnya pun tak kalah cantiknya...mudah2an kapan2 saya bisa kesana, jujur baru pertama kali ini mendengar dan membaca tentang candi bahal.

    salam kenal ya mas, saya follow blognya juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas, kecantikan yang tersembunyi, hehe
      aamiin, ntar kalau ke sini kabarin saya,
      iya terima kasih..

      Hapus
  5. Peningala bersejarah yang masih bagus dan merupakan salaha satu aset sejarah yang patut kita jaga dan lestarikan

    Saya sependapat sebg generasi penerus untuk menjaga dan jangan sampai merusak,
    postingan yg sangat berguna dapat memberi informasi positip sobat
    terima kasih sudah berbagi.

    BalasHapus
  6. kameranya keren nih :D
    waah, sejarah dan hal klasik itu membuat saya terbang ke masa lalu lalu berkenalan dengan mereka! saya juga senang sejarah, bang.

    omong-omong, salam dangdut bang :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gimana sih kamu Pit,
      saya kan udah bilang ini pakai kamera hp.. -_-"

      Hapus
    2. iya, maksudku kamera hapenya bagus. berarti hapenya keren! -___-
      sony experia ya? #kuisberhadiahHP

      Hapus
    3. LG Optimus kok Pit,
      jawaban kamu salah, xperia nya sama saya..

      Hapus
    4. jadi ingat hape saya yang diculik bapak-bapak di angkot. LG optimus juga. Jangan-jangan dijual ke bang Yudi! #konspirasi

      Hapus
    5. pantes saya menemukan data2 (yang terpaksa saya rahasiakan) yang dapat merujuk kuat ke blog kamu.. -_-"

      Hapus
    6. jangan-jangan selama ini rahasiaku memang sudah terbaca
      wahahaha :D

      Hapus
    7. mau bilang si om yudi keren aja belibet gini sih..?
      hehe

      Hapus
    8. dari penelitian yang saya lakukan kalau perempuan memiliki serabut penghubung antara belahan otak kanan ( logika ) dan kiri ( intuisi ) yang lebih sedikit itu membuat penyampaian dalam hal-hal linguistik sedikit lebih sulit terangkum pasti, itulah mengapa mereka tidak to the point, hehe.. (padahal copas dari google)

      Hapus
  7. kaya asik tuh kalo kesitu . . . .

    BalasHapus
  8. baru denger ttg candi ini..aceh ya mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. yaelah, keliatan nobitanya gak baca..

      Hapus
    2. haha.. iyah keliatan nobitanya :D

      Hapus
    3. haha, tak kasi tau dora emon ntar..

      Hapus
    4. gpp asal jgn shizuka aja :p
      mklum kak kmrin buka pake mobile, cuma baca kota gunung tuanya aja hehe

      Hapus
    5. shizukanya udah sama saya nobitaaa, saya ini kan dekisugi..
      lah, malah tambah aneh dunk, emang kota Gunung Tua di Aceh?

      Hapus
  9. agak mirip dengan candi ratuboko di yogyakarta.. saya baru tau kalau daerah Tapanuli Selatan memiliki candi. Biasanya candi2 itu mendominasi pulau Jawa. Hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut saya enggak, itu pure candi Hindu,
      lebih mirip candi Jabung yang di Probolinggo,
      sebetulnya di Sumatera juga banyak lho mbak..

      Hapus
    2. betul lebih mirip candi candi jawa timuran yang memakai batu bata. candi di jawa tengah kebanyakan pake batu andesit karena usianya memang lebih tua
      *kayaknya sih...

      Hapus
    3. iya, bisa jadi juga sumber daya yang tersedia di daerah sekitar untuk pembangunannya ya cuma tanah liat merah, jadinya mereka olah jadi batu bata..

      Hapus
  10. Saya belum pernah mengunjungi candi #sigh cuma candi buatan,

    BalasHapus
  11. Biasaya kan sumatra terkenal dengan prasasti tentang islam ya, tapi ternyata ada juga candi. Dan bahannya masih dengan batu bata bukan batu kali seperti candi prambanan.
    Gambarnya sangat bagus dan cerah pencahayaannya walau dengan hape.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, tapi di Sumatera kan Sriwijaya itu terkenal sekali mas, itu kan Budha ya. Dan masih banyak lagi bukti sejarah bahwa Andalas tidak hanya dimasuki Islam, tapi jauh sebelumnya sudah diekspansi oleh kerajaan lain.
      Ah bisa aja, terima kasih mas..

      Hapus
  12. andai saat itu teknologi batu bata sudah dikenal. kenapa hanya dipakai untuk candi saja. rumah penduduk atau keraton kenapa tidak pake bata juga biar peninggalannya makin banyak

    atau ada unsur supranaturalnya makanya batu bata candi mampu bertahan ratusan tahun sementara batu bata untuk bangunan lain tidak..?

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya rasa lebih kel alasan yang ngawur saya buat di tulisan mas, mungkin bahan tertentu hanya boleh dipakai kasta tertentu, dan bahan sisa untuk para jongos dan rakyat jelata, yah bisa dikaitkan dengan alasan supranatural juga sih

      Hapus
  13. eksotis, cakep buat foto2 *salah fokus

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya kan yang eksotis dan cakep itu?
      ah, mbak Nin bikin saya tersipu malu ah..

      Hapus
  14. Rasanya bentuknya sama aja ya dengan candi2 (kecil) yang banyak tersebar di tanah Jawa

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah kalo itu saya kurang tau mbak, taunya candi yg gede2 aja..

      Hapus