Selasa, 12 Maret 2013

Journal: Sabang, The Heavenly Island (I)

Suatu siang, di satu sudut Sabang
Apa kabar sahabat blogger semua, saya kembali untuk posting sambungan tentang petualangan kami ke Aceh. Jika pada postingan sebelumnya kami hanya berwisata kilat di seputaran kota Banda Aceh yang tenang, kali ini kami memutuskan untuk menyeberang ke sebuah pulau yang namanya ada dalam salah satu lagu nasional negara kita. Tentu sahabat-sahabat tidak asing dengan penggalan lirik: dari Sabang sampai Merauke, dst., ya, kami akan menyeberang ke pulau Sabang.

Ada beberapa pilihan kapal untuk menyeberang dari kota banda Aceh melalui pelabuhan Ulee Lheue, antara lain beberapa jenis kapal feri cepat dan satu jenis kapal feri lambat. Terus, yang mana jadi pilihan kami? sahabat semua pasti sudah bisa menebak kapal mana yang kami tumpangi dengan wajah kami yang dari sononya memang punya ciri khas kelas ekonomi, haha. Kami menumpang kapal feri lambat dengan tarif Rp.20.000 sekali penyeberangan. Sedangankan tarif untuk kapal cepat sekitar Rp.65.000 sampai Rp.100.000. Kalau kami sih yang penting nyampe, hehe. Dan setelah sampai di pulau Sabang, ternyata kami tidak berlabuh di pelabuhan Balohan, melainkan langsung ke kota Sabang, karena pelabuhan Balohan sedang dalam tahap renovasi, hal itu tentu menguntungkan, karena jarak kota Sabang dengan Iboih (wilayah penginapan dan wisata) hanya berkisar 20km, lebih dekat 10km daripada melalui Balohan, dan hal itu bisa menghemat ongkos. Ada banyak pilihan angkutan dari kota Sabang ke Iboih, kebanyakan sih mobil jenis L300 dengan tarif Rp.50.000/orang, kami cari solusi lain, kami tanya becak motor, dan ongkosnya cukup murah, kami berdua cuma perlu bayar Rp.55.000, daripada naik mobil sudah Rp.100.000.

Kesan pertama begitu sampai di tempat ini, Subhanallah, kemanapun mata mengarah kita cuma disuguhi keindahan alam natural perpaduan hutan hujan tropis yang eksotis berjejer di perbukitan dan hamparan laut yang biru menggoda dengan bibir pantai putih bersih.

Sampai di Iboih sudah sore
Sekitar 30 menit menaiki becak, sampailah kami di desa Iboih, tempat dimana semua bangunan adalah penginapan, semua teluk adalah markas para diver, dan ini adalah rumahnya para backpacker..! Turun dari becak, kami hunting penginapan, satu keunikan Iboih, penginapan disini semuanya tergolong murah, range harga mulai dari Rp.50.000 sampai dengan 1.000.000 per malamnya, tergantung lokasi, fasilitas, dan kemewahan penginapan. Hampir tak kami temui wisatawan dalam negeri, kebanyakan dari luar negeri dan uniknya mereke lebih getol mencari penginapan yang murah. Di Iboih ini, kalau kita rela agak naik ke bukit, kita makin akan mendapatkan harga penginapan yang spesial. Hmm, karena kami sampai di Iboih sudah sore hari, jadi tidak waktu untuk jalan-jalan, paling hanya foto-foto sunset di sekitar cottage yang kami sewa, tapi fotonya lain kali saya share ya.

Pagi hari pertama di Iboih

View dari teras cottage: bangun pagi begitu buka pintu langsung liat begini, hehe
Di tempat ini kita bawaannya pengen senyuuum aja (orang gila kali, hehe), karena suasana hati jadi damai dengerin angin laut menghembus pepohonan di depan penginapan, kalau liat dari jauh, cottage kami seperti rumah pohon, kalau malam dinginnya minta ampun, hehe. Karena tadi malamnya kami tidur dengan nyenyak, selesai kewajiban subuh kami langsung melompat keluar, berfoto ria.

Selamat pagiii..!
Karena masih pagi, kami belum berani nyebur, bisa mati kedinginan. Lagian sih menurut saya waktu yang paling tepat untuk beranang, snorkling, atau bahkan diving itu siang hari, karena sinar matahari akan membantu penglihatan kita di bawah air. Dan apa yang kami fikirkan tentang wisata bawah air Sabang ini, tepatnya saat menyeberang ke pulau Rubiah, sekitar 100 meter jaraknya kalau berenang dari laut depan cottage, Subhanallah, indah bangeeet, bener-bener deh. O iya, diving equipment banyak tersedia untuk disewakan, tarifnya mulai dari Rp.40.000 sampai Rp.500.000 tergantung jenisnya.

Pagi ceria
Dan saya memang ngarep difoto, hehe

0 KM Indonesia

Monumen 0 KM dan dengan bangganya Baban berpose seperti itu
Setelah sarapan, kami pergi ke tempat penyewaan sepeda motor. Di Iboih ada sangat banyak jasa rental motor, tarifnya Rp.80.000 sampai dengan Rp.100.000. Kami memilih kendaraan matic untuk memikirkan kenyamanan selama berwisata. Dari Iboih, titik 0 KM cuma berjarak 8 KM, sekitar 15 menit perjalanan dengan sepeda motor. Monumen/tugu 0 KM adalah situs yang dibangun pemerintah Soeharto yang diresmikan oleh Menristek saat itu tahun 1997, pak B.J. Habibie yang pinter. Dibangun untuk menandakan letak geografisnya yang menyatakan letak 0 KM Indonesia, di dalamnya terdapat informasi spesifik letak nya.

Masih di sekitar tugu 0 KM yang posisinya di ujung pulau Sabang, terdapat view yang sangat bagus untuk melihat samudera Hindia, lagi-lagi Subhanallah.

View dekat tugu 0 KM
Narsis abis
Awas jatoh..!
Laut lepas
Hmm, segitu dulu deh part 1 dari tulisan saya tentang Sabang, pulau yang sangat indah. Di Sabang fasilitas yang biasanya dibutuhkan cukup lengkap kok, dan sahabat-sahabat jangan khawatir, di sini harga gak pake neko-neko dan tergolong murah untuk apa aja. Belum lagi ciri khas penduduk yang ramah, terbuka, dan sangat membantu apabila kita bertanya kepada mereka.

Selanjutnya, saya akan posting perjalanan kami ke objek-objek wisata lain di pulau Sabang, insyaAllah.

Keep calm, and go to Sabang, hehe
Salam jepret..!

37 komentar:

  1. Wah...keliling banda aceh pasti sangat menyenangkan. tentu nya ada kenangan2 yg special ketika menikmati suasana yang baru.
    **Btw yg menjadi saya heran, biasanya klw wisata atau acara seneng2 kebanyakan sama pasangan / kekasihnya. lah ini malah dengan sesama jenis.. ... curiga ahh

    BalasHapus
    Balasan
    1. haha, sial, beberapa emang liat aneh mbak, tapi mnurut saya sih gak etis aja gitu, misalnya nih saya punya cewe, trus bebas dunk ya saya bawa jalan ke luar kota trus nginep di hotel, what a shit,
      haha,
      mungkin harus gitu kali ya biar keliatan lazim..

      Hapus
    2. wah kalau menurut saya, lebih indah bersama-sama sesama jenis daripada sama lawan jenis tapi ngga halal #eh

      Hapus
    3. wah, tumben ada yang satu fikiran dengan saya..

      Hapus
    4. kepincut saja dengan komentar di atas ...
      apalah arti penilaian orang terhadap kita kalau nyata2nya penilaian itu malah salah dimata yang punya kita.. hhe

      Hapus
    5. sebetulnya saya tidak begitu peduli dengan bagaimanapun orang melihat saya Mbak..

      Hapus
  2. Subhanallah, kemanapun mata mengarah ... keindahan terhampar :)
    pingin ada di sana dee kang ;(

    Belajar Photoshop

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener mas, makanya main ke Sabang, ndak mahal kok..

      Hapus
  3. itu pulau sabang ya? keren yaaaa

    BalasHapus
  4. wahhh tempat kunjungan impianku daerah sumatra, selain aceh, padang dan sumut :)

    thx infonya mas :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, saya ada baca posting mas soal pengen ke Aceh..

      Hapus
  5. keren bangeet... seriusan dah, cuma dari dulu belum pernah ngerasain maen ke pantai nih, ke gunung terus, hehe
    tapi, salut buat jepretannya, keren banget, kaya wallpaper semua hasil jepretannya mas! berbakat nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, saya aja gak nyangka Sabang begitu indahnya,
      itu bukan karena saya bakat foto mas,
      orang yang baru sekali megang kamera juga kalo huntingnya di Sabang pasti indah hasilnya, wong tempatnya emang udah dari sononya indah..

      Hapus
  6. Ajibbb.... nggak nyangka gue di Aceh ada tempat seindah itu :)

    Ntar abis ngebolang di Lombok gue meluncurrrr.... *klo dana masih ada*

    Thanks buat cerita dan fotonya yang bikin gue ngidam hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. hayo jadi ngiler kaaan,
      makanya cepetan..

      Hapus
  7. Pantai? sampe segede gini saya gak pernah dikasih ijin nyentuh air pantai hihii foto2nya kece Bang :D

    BalasHapus
  8. wih itu naik motor ga pake helm! aku tilang nih >:)

    ijin save as foto laut lepasnya ya hahha

    BalasHapus
    Balasan
    1. ah, sudah lah pak polisi,
      sekarang aku akan mengeluarkan satu lembar hijau bernominal dan akan meberikannya kepadamu, setelah itu kita dapat kembali pada aktifitas kita, are we done?

      iya, monggo..

      Hapus
    2. nah ini yang bikin indonesia ga maju2 #halah
      ..dan apa saya kliatan kayak bapak2?

      Hapus
    3. shut up and take this fuckin' money, Sir,
      jangan bawa2 Indonesia agar saya menambah uangnya,
      saya memang tau 20 ribu ini tidak mampu untuk memajukan negara ini,
      perlu ribuan triliun dana pajak, dan itupun sudah hampir habis karena orang2 seperti anda pada tingkat yang lebih birokrat..

      saya harus berfantasi gimana Yen, fotomu pun gelap..

      Hapus
    4. ahaha woles bro..

      setidaknya kan sudah jelas gender saya perempuan

      Hapus
    5. hmmm yaudah sih, apa boleh buat, bisa repot kan kalo saya ntar disuruh membuktikan :p

      Hapus
  9. bang Yudhi... aiiih indahnya... subhanalloh ujung barat negeri kita ini..
    semoga ada jodoh usiaku, jadi aku bisa menapakkan kakiku disana juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, kesana bukan sesuatu yang sulit kok,
      budget juga tidak perlu terlalu banyak,
      modal niat dan nekat aja kali ya, hehe..

      Hapus
  10. weih Bang..keren kali Bang...
    Aduh jadi ngiriii lihat view nya Bang...
    Nabung dulu deh biar bisa ke Sabang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ki,
      nabungnya juga gak usah banyak2 buat ke Sabang,
      itung2 terimaksih sama badan dan ngasi hadiah refreshing..

      Hapus
  11. wah keren kak...
    Alhamdulillah, meskipun saya lahir di Aceh tapi saya belum pernah pulang lagi sejak peristiwa terakhir tahun 2000-an yang lalu. hehheee..
    makasih kak udah kasih jepretan tentang sabang... dan yang banda aceh sebelumnya..
    sekalian mau nanya, kemaren ngelewati aceh timur gak kak.??

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, saya malah baru tau Ardi kelahiran Aceh,
      enggak Ar, kemarin cuma ke Banda Aceh sama Sabang dari Medan, dan saya tidak melewatinya..

      Hapus
    2. hehhe.. memang dirahasiakan kak. sedangkan di biodata semua ijazah aja gak dibuat aceh. karena dulu ndak berani, kata ibu saya nanti disangka kelompok GAM. jadi di buat kelahiran jambi. :)
      kadang kepengen juga bisa ngeliat kampung kelahiran..

      Hapus
  12. pantainya itu gak nahan. birunya bagus banget

    BalasHapus
  13. waaah murah ya? dari Jogja ke sana berapa ya PP

    BalasHapus
  14. ya allooohhh bangus banget!!!!!

    BalasHapus
  15. suatu saat nanti Dija mau kesana juga Om....

    BalasHapus