Selasa, 29 Mei 2012

Biar Foto Yang Bicara (bag. 6)


Surya Rezki R
iso: 80
f: 3.2
flash: no

Bukan foto yang baru sih, stok tahun lalu saat saya dan Kiki, panggilan teman saya diatas berlibur ke pantai Kelang, cukup jauh dari Medan. Walaupun sudah sore, kita tetap gak kehilangan hasrat foto-foto, apalagi dia yang sangat narsis, hehe. Kami sudah lama tidak bertemu karena dia tinggal di Jakarta, kalaupun dia pulang kampung ke Medan, malah saya yang sudah tidak tinggal di Medan lagi. Agak sulit memang mengatur pencahayaan kalau sudah sore, tapi kalau pakai flash, takutnya wajahnya kilat, hehe. Segitu aja kali ya, selamat malam sahabat-sahabat, salam jepret..!

Sabtu, 26 Mei 2012

Biar Foto Yang Bicara (bag. 5)


Sky And Sea
iso: 100
f: 11
flash: soft

Foto diambil saat pertama kali saya menginjakkan kaki di pulau Batam, bulan Februari kemarin. Bukan dalam rangka liburan (hiks..), tetapi karena ada perjalanan dinas ke sana dan skill camp yang berlangsung 3 hari. Kalau sekarang udah jarang banget hunting, karena udah kehabisan ide dan tidak terlalu punya banyak waktu, tetapi saya tetap menyukai hobi ini. Kalau saran saya sih, untuk view luas sebaiknya menggunakan lensa range zoom pendek dengaan diafragma lebar, karena saya gak punya lensa wide, yah dipada-padain deh dengan trik diagonal side point, walaupun tidak terlalu berhasil. O ya, mulai dari foto ini sampai foto-foto seterusnya karya saya, watermark dan style bordernya berubah seperti diatas, soalnya ada beberapa teman yang komplain dengan watermark yang dulu, mungkin karena ada 666 nya kali, padahal tidak ada maksud tertentu dan karena hanya saya yang tau artinya. Akhir kata buat sahabat-sahabat, salam jepret..!

Kamis, 24 Mei 2012

No Damai..! Hehe


Kemarin itu saya ketimpa sial lagi, padahal udah lama banget jaraknya dari "kesialan" yang seperti ini dulu. Kejadian dimulai sekitar jam 10 pagi, saat itu saya yang baru saja menyelesaikan beberapa kelengkapan survey dan list-list OTS di kantor ingin membeli koran yang letaknya tidak terlalu jauh dari kantor. Ya, akhir-akhir ini saya mulai sering membaca koran, karena di kantor gak ada tv dan saya punya waktu untuk membacanya. Saya menggunakan sepeda motor dan tidak menggunakan helm, karena jaraknya yang tidak terlalu jauh menurut saya. Setelah mulai bergerak sekitar 100 meter, tiba-tiba di depan saya ada seorang p*lisi yang sedang menyeberang. Awalnya dia tidak melihat kearah saya, tapi karena dia menyeberang di depan saya, saya refleks mengklakson, dan yah, ketahuan juga deh.

Siaaal..! akhirnya dia nyuruh saya minggir dari jalan dan seperti biasa: Selamat siang Pak, bisa tunjukkan kelengkapan surat-suratnya?. Huuuh, males banget liat ni oraaang (dalam hati saya). Iya pak sebentar, jawab saya sambil mengeluarkan dompet dan mengambil SIM dan STNK. Saya terus berikan itu ke dia, lalu dia memeriksanya sambil manggut-manggut, trus bilang ke saya: kenapa helmnya tidak dipakai pak?. Saya hawab: oh, saya lupa pak, lagian saya juga mau disekitar sini aja kok. Tapi dalam hati saya bergumam: memangnya kenapa hah? mau aku pakai helm atau gak yang kenapa-kenapa kan kepalaku, bukan kepalamu..!. Lalu dia mulai bicara panjang lebar soal lalu lintas, saya hanya manggut-manggut karena sudah hapal apa maunya, tapi saya juga gak bisa lama-lama diluar, karena masih ada pekerjaan. Lalu akhirnya dia berkata: terus gimana nih?. Saya jawab: ya sudah pak, tilang saja kalau perlu.

Dia tampak heran, mungkin dia baru kali ini menerima jawaban seperti ini, lalu tampak sedikit melunak, yasudah kamu selesaikan saja masalah ini, gak perlu repot-repot. Saya pura-pura bodoh, dan bilang, maksud bapak?. Sudah, ngapain repot-repot diperpanjang masalahnya, kamu selesaikan saja ini (sambil menunjukkan SIM dan STNK saya). Dari awal saya sudah ngerti maksdunya, dan saya memang sudah punya prinsip tidak akan melakukan perbuatan kotor (lagi) dengan suap, dan saya rasa dia memang lagi tidak bisa menilang saya karena tidak bawa surat-surat tilang kali ya. Saya jawab lagi, saya betul-betul tidak mengerti pak, yasudah kalau mau ditilang pak, tidak apa-apa, toh saya yang salah. Dia mulai bicara panjang lebar lagi, tapi saya tetap saja dengan keras kepala saya, hehe. Akhirnya dia tampak kesal, lalu bilang: yasudah, kamu ambil helmnya dan dipakai karena itu peraturan lalu lintas, kamu boleh pergi saya masih sibuk. Terima kasih pak, jawab saya sambil memasukkan SIM dan STNK saya kembali ke dompet lalu mulai mengendarai sepeda motor lagi. Lucunya saya gak kembali ambil helm, tapi melanjutkan ke toko untuk beli koran, karena jarak tokonya udah dekat. Selesai dari toko saya lihat dia masih di sekitar situ tapi sudah di seberang, dia lihat saya juga (pasti dongkol banget). Saya hanya tersenyum sok ramah sama dia, hehe.

Kamis, 17 Mei 2012

The Risk Cafe

Kemarin beberapa teman yang posisinya sudah senioran dari saya, juga dari berbagai "merk" yang berbeda, mulai yang dari milik pemerintah daerah, milik negara, swasta, sampai beberapa lembaga pemodalan yang kabarnya sebentar lagi akan jadi bank, ngajak saya main futsal. Kegiatan ini memang kami lakukan setiap minggunya, saya jadi bertemu dengan lebih banyak orang dan menambah teman baru dengan latar belakang yang tidak jauh berbeda dan pastinya mereka lebih berpengalaman dari saya, hehe. Sebetulnya saya baru mengenal mereka yang sering ngumpul ini, gak sampai bentuk komunitas sih, cuma memang isinya teman-teman AR, review, CO, CA, bahkan CCO, pokoknya mereka dari risk semua. Mereka sering gathering sekitar dua bulan sekali dan sifatnya gak resmi tapi cukup terarah. Di acara itu kita saling bertukar informasi, yang bersifat bukan rahasia, hanya permasalahan seputar kerjaan review. Saya awalnya agak minder juga sih mau gabung di klub ini, tapi suatu hari saya beranikan diri dan bertanya kepada salah seorang dari mereka yang saya lihat pada saat acara banyak menyampaikan (atau banyak bicara, hehe) untuk bergabung dan mencari tau syarat masuknya, lah, dia malah ketawa dan bilang kita gak seresmi itu, jadi saya cukup sering hadir aja kalau mereka nongkrong.

Setelah beberapa kali nongkrong dengan mereka yang punya latar belakang perusahaan yang berbeda-beda, tapi dari jenis job yang sama, saya mendapatkan banyak sekali penambahan ilmu yang gak bisa diharapkan dari training yang rutin sekitar enam bulan sekali atau saat ada perubahan sistem. Banyak sekali penyelesaian yang mirip dengan kasus-kasus yang saya temui langsung di dunia nyata, misalnya tentang masalah peningkatan hak tanah, over alih pinjaman, bahkan masalah pribadi di kantor, karena ada salah satu dari mereka yang bisa jadi teman curhat, hehe. Sekarang juga saya gak begitu canggung lagi dengan mereka, siapa tau dari mereka juga bisa dapet kesempatan naik karir. Tempat kumpul yang sering diajdikan tempat gathering ini memang hanya sebuah coffee shop, yang biasanya sudah di booking setengah hari di hari sabtu, tapi tetep aja saya masih belum pede sampai presentasi kedepan berbagi solusi seperti senior-senior itu. Yah, semoga saya bisa tetap belajar bersama mereka.

Selasa, 08 Mei 2012

Satoshi Call Me And He Said: Save Me From This "Party"..!

Tak pernah tertawa seperti ini, padahal lagi agak stres sama kerjaan di kantor.

#kagetwaktumaupulang

#36hourstoreuinonwithTheMahmuders

>:D

Minggu, 06 Mei 2012

Fucking Hypocrite..!

Ini betul-betul luapan dari kebencian,
Rasa muak yang amat sangat..
Mungkin beberapa orang juga akan muntah,
Tapi aku tidak, kurasa aku tak perlu membuang energi untuk itu..

Ya, aku ingat aku pernah mendengarkan anjuran-anjuran busuk,
Yang saat itu kau juga melakukan sesuai dengan perkataanmu..
Kenyataannya sekarang kau adalah orang yang menjilat ludah sendiri,
Aku tak tau pasti, tapi kuyakin kau punya seribu alasan untuk membenarkan dirimu..
Dulu aku ingat ocehan-ocehan tentang konsistensi,
Tapi sekali lagi memang dunia punya cara sendiri untuk menunjukkan:
Bagaimana yang paling bersemangat dan lantang menyeru-nyerukan sesuatu,
Itu juga yang pertama kali berbalik arah..!

Dan untukku,
Aku sudah diberi tau kebenaran, laknat bagiku apabila tidak meninggalkan yang salah..
Walau hal itu membuatku ketinggalan zaman dan bahkan terasing dari dunia,
Jelas aku bukan kau dan aku selalu berdoa untuk dijauhkan dari orang-orang seperti itu..

Rabu, 02 Mei 2012

Karena Hati Selalu Kalah

Ibu, aku merindukanmu, entah mengapa padahal setiap hari kita selalu bertemu di rumah. Sekarang bahkan setiap hari aku memakan masakanmu. Tapi aku mulai tak yakin, apakah ini memang aku?. Yang kutahu dari dulu aku selalu bercerita kepadamu tentang apa saja. Apa yang sedang kufikirkan, apa yang kubenci, apa yang kuinginkan, segala hal. Aku ingat sewaktu kecil dulu aku pernah mengganggu seekor induk kucing yang sedang menjaga beberapa anak-anaknya yang masih sangat kecil dengan memisah-misahkan mereka lalu kau datang dan sedikit memaharahiku: tidak boleh begitu! gimana kalau kamu dipisahin dari ibu?. Yang kuingat waktu itu aku menjawab spontan: Enggak mau! sambil menaruh kembali anak-anak kucing itu ke induknya. Jika kuingat masa-masa itu sekarang, kadang aku tersenyum sendiri dan kadang terasa menyedihkan. Betapa banyak pelajaran hidup yang kau berikan semenjak aku lahir, selalu mengawal perkembanganku: apabila aku melihat sesuatu maka kau beritahu aku apa yang kulihat itu dan mengapa bisa seperti itu, apabila aku mendengar sesuatu, kau beritahu aku bahwa yang kudengar itu baik atau tidak, apabila aku berbicara maka kau ajarkan aku untuk bertanggung jawab atas apa yang kukatakan. Kenyataannya, sampai sekarang kau tak pernah berubah, tapi aku yang mulai bertanya-tanya apakah aku masih aku?

Sampai sekarang sebetulnya aku belum mengerti bagaimana mengkuti kata hati. Aku adalah orang yang penuh dengan pertimbangan, selalu mempunyai perhitungan jelas atas sikap yang kuambil. Dan kesalahan fatal adalah absennya perasaan dari pertimbangan-pertimbangan tadi karena kuyakin akal dapat menjawab segala hal yang logis. Mungkin kesibukan telah menjauhkan kita yang sebenarnya dekat, sampai aku merasa hal itu sepele dan yang terpenting aku melakukan kewajibanku dengan benar. Untuk beberapa waktu aku memang suka dengan kebiasaan seperti ini, tapi lama-kelamaan rasanya yang melakukan kebiasaan-kebiasaan ini hanya badanku saja, hatiku tertinggal entah dimana. Beberapa waktu yang lalu memang kita sudah bicara banyak, dan kau selalu saja mendukungku dengan keputusan apapun yang akan kuambil, karena sudah percaya, mungkin. Kemarin kita berbicara tentang karir, dan kusampaikan kalau aku ingin mencoba lebih banyak pengalaman, bahkan jika sampai berhenti dari tempat yang sekarang. Lagi-lagi kau mendukungku, aku heran, mengapa kau yang lebih peduli pada hatiku daripada aku sendiri. Bagimu, yang terpenting adalah aku tidak memaksakan diri dan tetap memiliki hati dimanapun berada.

Bagaimanapun, aku akan selalu bercerita kepadamu, berbagi apapun yang kurasa, seperti dulu. Aku akan hidup dengan hati..

For you Mom, with love..