Kita tidak pernah betul-betul mengerti tentang semua yang kita lihat,
Sampai kita hanya akan menghadapi ada atau tidak ada: hitam atau putih..
***
Selamat siang sahabat semua..! Ya ahirnya saya sudah berhasil mereverse tema blog ini ke sebaliknya setelah 6 tahun tanpa perubahan, haha. Saya sangat menghargai komentar sahabat-sahabat semua yang sangat membangun. Mayoritas berkata blog saya gak nyaman dilihat, serem, kayak mati lampu, banyak lagi deh. Komentar sahabat semua ditambah masukan beberapa teman kantor gak penting lainnya membuat saya makin yakin untuk mengubah tampilan blog saya. Dan ini beberapa komentar yang cukup membangun:
Emang blog saya sosmed? hehe, tapi ini komen yang paling saya suka
Pasti maksudnya Eye catchy.. :P
Mereka sudah buktika, kenapa tidak? hehe
Sebetulnya semua komentar sahabat sangat bagus-bagus dan membangun semua, tapi segitu aja ya yang ditampilin, mau jadi apa panjangnya kalo ditampilin semua ya gak?. Saya masih tetap pakai konsep lama gak mau ribet-ribet dan simpel. Semoga sahabat semua dan siapa aja yang berkunjung ke rumah ini gak merasa seram atau mati lampu lagi, masa-masa gelap itu sudah lewat, haha. Hmm, kalau begitu selamat ber-blogwalking ria..! Salam.
Sore sahabat blogger semua, lagi pada ngapain ni Minggu sore? liburan atau cuma main HP online seharian karena gak ada yang ngajakin jalan? haha. Sebetulnya saya yang di rumah aja bengong gak pergi kemana-mana makanya saya kembali pada hoby ganjil: ngeblog, hehe.
Hmm, saya ngeblog mulai dari tahun 2010, kebanyakan tulisan saya tentang jalan-jalan, liburan, backpackeran, foto-foto, musik, hoby gak penting, kehidupan fiktif (haha) dan sesekali kadang bahas masalah yang serius. Dari awal saya bikin blog tema-nya gak pernah ganti: simpel, item. Hal itu cuma karena saya males, titik. Tapi ya biasanya kalo lagi begini (iseng nulis) jadinya pengen juga ganti suasana blog.
Sahabat semua yang udah pada jago, tolong sarannya buat nentuin design blog ya, entah itu soal kontennya, pemilihan tema-nya, bahkan teknik codingnya. Karena rasanya tuh kayak Enam tahun pakai baju yang sama, hehe. Thanks.
Saya punya banyak alasan tentang mengabaikan, malas, dan rasa yang mulai berkurang. Tanpa memungkiri tempo kesibukan yang berbeda saat blog ini "lari kencang". Oke, ada banyak yang terjadi di kurun waktu 2014 sampai 2015 ini. Saya mulai berpindah-pindah pekerjaan lagi. Saya tau tidak ada banyak pilihan untuk umur muda dan hasrat yang selalu membandingkan di kota kecil ini. Tak terkikis sedikitpun keinginan untuk menjaga Ibunda yang semakin tua; membawanya berkeliling beberapa kali dalam seminggu, menyisihkan gaji kecil hanya untuk makan di luar, bercerita tentang masa lalu saat pulang sore karena pekerjaan tidak terlalu banyak.
Saya masih santai, tapi saya juga masih menghabiskan 20-23 jam untuk bingung (sial). Saya sering berpura-pura untuk tidak merasa bosan sesekali sambil mengulangi kebiasaan yang membosankan. Seperti orang lain juga, di kantor saya bertengkar, tertawa, mencurigai, bersekongkol, dan menyediakan sedikit hati untuk rasa kemanusiaan antar karyawan.
Pernahkah kita bertanya; hidup seperti inikah yang kita inginkan?. Kalau pertanyaan itu belum pernah kamu tanyakan ke dirimu coba tanyakan sekarang, temani saya di kamar ke-pesimis-an hidup yang butuh pelarian. Saya sering merasa bagian yang sangat terintegrasi dengan sebuah pola laku hidup yang kompleks, seperti merasa menjadi daun di aliran sungai, hanya faktor yang bukan dari daun itu yang bisa mengubah arahnya misalnya ya batu besar atau kencang arusnya.
Tapi yah itulah egosentrisnya manusia, toh di saat senang juga saya lupa akan ke-pesimis-an itu. Saya merencanakan-dengan-fikiran-baik semua hal disaat semua menyenangkan. Tanpa memungkiri juga hasil dari rencana tersebut rata-rata memuaskan. Jadi toh ini masalah mood donk? Iyak betul..! Hal sepele yang pertama kali kamu lakukan di saat semuanya terasa sangat berat, coba SENYUM, jangan tanya saya alasannya..! dasar kamu bebal..! coba saja,,! ya, seperti itu. Jangan bohong, rasakan saja. Semua jadi berbeda dalam kondisi yang sama.
Yah, ini tentang kembalinya saya menulis di blog ini, ini kembalinya saya mencoba mengerti bahwa untuk tersenyum, saya dan kalian tidak perlu alasan yang menguntungkan.
Pertama kali dengerin lagu ini tahun 2011, waktu lagi habis-habisan nyusun skripsi. Banyak waktu saya dan teman saya yang kami habiskan di kedai kopi. Dan kedai kopi Tiam Ong dekat kampus saya dulu adalah salah satu kedai kopi tempat kami sering membahas dan mengerjakan skripsi dari mulai sekitar jam 8 sampai jam 12 malam. Di kafe ini kita disuguhkan dengan interior tempoe doeloe, iringan musik klasik dan juga Bossanova ini. Yah, jatuh cinta dari pendengaran pertama lah saya sama lagu ini.
Agak sulit mencari beberapa barang yang saya butuhkan di kota saya, kalaupun ada pilihan sangat terbatas, kalau yang sesuai keinginan harus memesan dulu di tokonya, harus menunggu beberapa hari dan harganya makin mahal. Pada jenis barang tertentu yang orang biasa jarang membelinya, belanja online menjadi solusi terbaik. Ini terkait libur saya yang saya habiskan di rumah dari mulai hari Jumat kemarin, dan baru tadi saya masuk kantor. Selama di rumah, saya jelajahi lagi isi komputer (bukan laptop) yang dulunya sering saya gunakan untuk eksperimen hal-hal yang menarik buat saya. Ketemulah saya dengan satu folder project yang dulunya saya susun sekitar tahun 2011.
Saya tertarik dengan hal-hal sound digital, pengolahan gelombang audio, sound mixing dan lain sebagainya. Tapi saat itu saya tau, hobi saya ini tidak tergolong murah bagi saya yang saat itu hanya mahasiswa bokek. Jadilah saya baca ulang plan saya itu, ternyata saya bahkan sudah menuliskan sejak jauh hari apa saja yang harus dibeli. Beberapa yang dapat saya temukan di toko sekitar kota saya coba beli seperti kabel RCA dan sound card eksternal. Saya pun mempelajari lagi semua hal tentang digital sequencer, tapi saya tak bisa memaksakan diri lagi menggunakan program-program open source, karena sangat minim dukungannya. Mau tak mau yang terpasang Sonar dan Nuendo serta VST salah satunya EZDrummer yang semuanya bajakan.
Saya meminjam sound gitar (speaker amplifier) teman saya, karena efek pre-amplinya keren, di rumah saya memang memiliki satu, tapi hanya memiliki pengaturan tone 3 channel. Saya rasa, yang paling penting hanya tinggal membeli MIDI Controller saja, tapi ya itu, dari dulu harganya mahaaal, jadi untuk coba-coba gak apa-apa deh kalo instrumen yang tersedia cuma gitar elektrik dan gitar akustik.
Yah, daripada jajan-jajan gak jelas, mending nurutin hobi, walaupun bisanya beli satu-satu nyicil. Hmm, terima kasih Lazada, pelayanannya memuaskan, 2 hari udah nyampe, udah gitu gak pake ongkos kirim lagi..!
Apa kabar sahabat semuanya? Kali ini saya mau review satu album yang sebetulnya sih band ini sudah saya dengar sejak SMP dulu. Saya memilih mereview ini karena album ini baru saja sampai ke rumah saya, saya minta belikan sama teman yang ada di Medan, udah lama sih belinya, tapi dia baru sempat kirim kemarin. Yah, pertama kali jatuh hati sama lagu mereka tahun 2003an kalo gak salah, yang judulnya When Death Replaces Life, dulu itu hits banget, hehe. Tapi sebelumnya ada baiknya saya cerita sedikit tentang Cannibal Corpse ini. Band ini pure Death Metal, tempo padat menjadi ciri khas di setiap lagu mereka. Tema kekerasan, sadis dan kadang kritik sosial merupakan penyampaian dari lirik-lirik mereka.
Dari segi teknik musikalis sendiri, riff-riff yang mereka mainkan cukup kompleks. Stem-nya terdengar sangat drop, saya pernah coba membawakan dengan stem drop D aja masih kewalahan. Death growl nya juga terkesan sangat powerful, pengucapannya masih bisa didengar cukup jelas, berbeda dengan bebarapa band pendatang baru yang terkadang hanya terdengat teriak-teriak dengan tarikan nada rendah seperti mengucapkan: grookh..! grookh..! aargh..! (kayak suara babi, haha). Twin drum nya juga rapi, speednya masih masuk akal, contohnya saat di track As Deep As the Knife Will Go, jadi gak ngebosenin.
Ini dia track-track yang ada di album Torture:
1. Demented Aggression
2. Sarcophagic Frenzy
3. Scourge of Iron
4. Encased in Concrete
5. As Deep as the Knife Will Go
6. Intestinal Crank
7. Followed Home Then Killed
8. The Strangulation Chair
9. Caged... Contorted
10. Crucifier Avenged
11. Rabid
12. Torn Through
Yang paling saya suka Scourge of Iron, agak sedikit progressive dan enak di dengar kapan aja, sama Caged... Contorted, dengerin musiknya jadi semangat. Yah, begitulah review singkat saya, kadang saya lucu aja liatin lagu-lagu mereka yang berisi kata-kata penyiksaan, potong-memotong, berdarah-darah, tapi bagi sebagian yang mengerti, mereka tidak hanya omong kosong kok, bahkan mereka itu sering menggambarkan sifat asli manusia yang sebenarnya, rakus, tamak, bahkan "memakan" sesamanya.
Sedikit kaget sih waktu tau si Takeru (pemeran Masked Rider Den-O) yang memerankan Kenshin. Tapi kalau dilihat karater wajah dan badannya sih mirip. Aah, entah kapan diputar di Indonesia, padahal udah gak sabar mau nonton, hehe.
FISABILILLAH..! Teringat growl khusus para dedengkot grindcore. Hmm, sudah lama sekali saya tidak blogging nih, maklum trio Kribo sudah menyelesaikan tugasnya mengisi liburan saya yang sangat "gila". Nanti kalau ada kesempatan saya mau posting liburan gila-gilan kami, hehe. Pada kesempatan kali ini saya cuma mau cerita tentang kekaguman saya pada beberapa pandangan. Beberapa pandangan yang bagi sebagian orang dinilai gila, radikal, aneh mungkin juga positif atau negatif.
Beberapa waktu yang lalu, udah agak lama sih, waktu ngaskus, saya cek thread baru di forum Metal. Sempat ngiri juga liat thread tentang Java Rockin'land, kenapa sih gak mampir ke Medan, hehe. Kebetulan saat itu liat judul thread yang judulnya Disela-sela Konser Musik Metal Merekapun Sholat Berjamah. Memang thread yang itu bukan bagian dari sederetan acara Java Rockin'land, melainkan konser metal dengan band-band underground. Beberapa yang nampil yaitu Purgatory, The Roots of Madinah, Qishas, Gunxrose dan lain-lain. Tidak terlalu aneh menurut saya yang mereka lakukan, walaupun beberapa teman saya terkejut membacanya karena mereka merasa aneh melihat anak-anak metal yang penampilannya mengerikan dengan musik yang cadas ternyata shalat jika telah tiba waktunya.
Yah, mungkin teman-teman saya itu menganggap metal itu sesat, musiknya kaum marjinal, identik dengan kemarahan dan lainnya. Hmm, sebaiknya mereka dengarkan dulu apa yang disampaikan mereka, baru menilai. Misalnya saja Tengkorak, band ini paling semangat menurut saya dalam menyampaikan semangat Islam dan Purgatory yang sering mengatakan: terserah mau dianggap dakwah atau apa, yang penting kami hanya ingin maksud dari musik kami tersampaikan. Terbukti dengan lirik-lirik mereka yang sering diambil dari ayat Quran dan pengajian rutin yang mereka lakukan.
Kemarin juga waktu nge-blog, saya mampir ke blognya mas Brigadir Kopi, yang ternyata juga seorang Moggers (menurut saya sih, hehe). Beliau suka nulis tentang Islam, pandangan saya banyak terbuka setelah baca artikel-artikelnya yang sangat objektif. Saya sangat menyukai pandangan yang sangat objektif, oleh karena itu saya sangat melihat perbedann antara orang yang hanya terdoktrin dan orang yang belajar memahami. Karena pada fitrahnya, kita sebagai manusia adalah mahluk yang harus terus belajar dengan kritis. Di salah satu tulisan mas Brigadir Kopi saya melihat gambar jari telunjuk megacung, yang melambangkan satu, ketauhidan yang satu, pada Allah. Beliau mengingatkan jangan meniru-niru salam tiga jari ala metal yang sesat itu, karena pada dasarnya itu melambangkan pemujaan setan (wah-wah, jadi ngeri nih, sekedar pose gaya aja bisa gitu artinya). Salam tauhid satu jari ini sering lho ditunjukin sama Purgatory, Tengkorak dan yang lainnya, kemarin gak sengaja nonton video mereka, gak seperti musisi metal lain yang bangga ngacungin tiga jarinya.
Yah, mungkin beberapa dari kita juga merasakan kebosanan seperti saya yang suka dengar musik, tema-nya pasti cinta melulu, padahal-kan cinta sesama manusia itu hanya sedikit sekali dari seluruh bagian hidup yang diberikan Tuhan. Jadi gak pantes dong kita mendengarkan sesuatu yang indah yang isinya hanya tentang manusia dengan manusia dalam kehidupan yang sebenarnya adalah fana. Kalau kata teman saya sih, jikalau kita rasa akhirat itu memang ada seperti halnya disaat siang kita merasa sebentar lagi akan malam, pasti kita gak sempat-sempatnya deh melakukan hal lain selain ibadah. Kata-kata itu selalu membuat saya bercermin, melihat diri saya yang hobi buang-buang waktu, seolah-olah hidup masih panjang. Wallahua'lam, semoga kita terus belajar untuk mencari kebenaran bukan melakukan pembenaran terhadap diri sendiri. "Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.." [Quran, 2:32].
"Metal itu identik dengan kemarahan, tapi itu adalah ekspresi jiwa yang tidak dibuat-buat.." -Thufail Al-Ghifari, TROM
apakah mereka bangga atas perbuatan mereka, apakah ini namanya
perdamaian, apakah ini Israel yang mereka cita-citakan.
Seorang tentara meludah ke arahku, jadi aku langsung mendekatinya
dan mempersilakannya meludahiku. Dia menolak tawaranku.
Sebuah tank datang menderu ke hadapanku,
moncong raksasanya mengarah kepadaku.
Aku mengangkat kedua tanganku di udara, berdoa,
dan berteriak, 'Tembak, tembak! Baruch hashem Adonai!
(Terpujilah nama Tuhan!)' Tank itu berhenti beberapa inci di hadapanku.
Aku lantas berlutut di jalanan, berdoa dengan tangan terangkat di udara.
Aku merasa sendiri, lemah, tak berdaya.
Aku hanya bisa menjerit kepada Tuhan."
-Arthur G. Gish, dalam Hebron Journal
Hebron Journal merekam pengalaman seorang sukarelawan penjaga perdamaian di Palestina. Pada 1995 hingga 2001, Arthur Gish seorang Kristiani yang berkomitmen hidup bersama keluarga-keluarga Muslim dan melakukan aksi-aksi anti kekerasan menentang kekejaman Zionis Israel.
Pertama kali membaca buku ini adalah saran dari seorang teman di pengajian anak-anak Rantauprapat, Wulan. Saat itu tema pembahasan adalah toleransi beragama yang dicontohkan nabi Muhammad SAW semasa hidupnya, banyak dalil yang saya tidak mengerti. Akhirnya, setelah pengajian selesai dan kami semua pulang ke rumah masing-masing, saya langsung menghubungi dia, saya menanyakan tentang permasalahan yang tidak saya mengerti itu, tapi dia menjawab: kenapa tidak ditanyakan tadi, kan bisa diskusi, lalu saya jawab, saya segan karena waktunya sudah malam, takut akan terjadi perdebatan yang panjang. Akhirnya dengan sedikit memaksa dia mau memberi penjelasan sebanyak yang diketahuinya. Pada akhir pembicaraan, dia menyarankan saya membaca buku yang berjudul Hebron Journal, saya berkata saya tak mempunyai buku itu, dan ingin meminjam kepadanya, sayangnya dia juga tak memiliki buku itu, dia pernah membaca buku itu dari seorang temannya.
Hal itu membuat saya penasaran, lalu timbul niat ingin membeli buku, tapi yah, anda semua tahu lah saya kan anak kos dengan duit pas-pasan, hehe. Iseng, saya membuka lemari kakak saya, berharap kalau buku itu ada diantaranya. Kaget, ternyata buku itu terpampang rapi di dalam lemari kecil itu, saya hanya heran, bagaimana ini bisa sangat kebetulan, atau saya memang terlalu malas membaca sampai-sampai saya tak mengetahui apa saja koleksi bukunya. Saya memang tidak hobi membaca, dan jarang melihat koleksi buku-buku kakak saya yang menurut saya membosankan semuanya terlebih kemarin saya sudah mengirimkan koleksi-koleksinya ini ke Padang dalam dua kotak besar, dan dikarenakan biaya pengiriman yang cukup mahal, saya hanya sanggup mengirimkan itu. Kata kakak, sisanya biarkan saja, dan dia selalu mengingatkan kalau waktu luang membaca itu asik. Yah, mungkin menurut dia.
Kembali ke buku Hebron Journal, saya benar-benar takjub dengan perjuangan Art Gish dalam membela rakyat Palestina, dalam tulisan pembukanya yang berjudul Teroris di Antara Buah Apel, yang menceritakan tentara Israel yang secara tiba-tiba menyerang pasar tempat menjual kebutuhan sehari-hari rakyat Palestina yang tersisa. Mereka menghancurkan dengan membabi buta, sampai tak ada satupun bahan yang dijual itu dapat dikonsumsi, bangunan-bangunan di bombardir, mereka beralasan teroris Palestina bersembunyi di pasar ini, sampai akhirnya operasi pengahancuran itu berakhir, mereka pulang dengan tangan kosong. Itulah pemandangan sehari-hari di titik-titik kota Palestina yang semakin hari semakin mengecil wilayahnya. Art Gish sering mendapat perlakuan kasar dari tentara dan pihak Israel karena usahanya menyuarakan perdamaian, menyuarakan ketidak adilan yang terjadi di Palestina, yang sebetulnya sedang ditutup-tutupi oleh barat di mata dunia. Padahal, Gish adalah seorang Nasrani, yang notabene adalah agama yang memiliki hubungan baik dengan Israel, terlepas dari itu, Gish bergerak berdasarkan nuraninya, bukan alasan agama yang dipakai untuk kepentingan tertentu. Nyawanya sering terancam karena perbuatannya yang dianggap berbahya oleh pihak barat dan Israel.
Setelah membaca buku ini, hati saya semakin miris: saya seorang yang mengaku Muslim, hanya berdiam saja saat saudara-saudara seakidah di Plestina sedang diperkosa oleh tentara-tentara itu dengan keji, membunuh anak-anak, wanita, orang tua dan semua orang lainnya dengan alasan yang dibuat-buat. Menghancurkan sekolah-sekolah, rumah sakit, mesjid dan bangunan yang tidak mengerti apa-apa untuk kepentingan negara palsunya. Dari ini, saya juga belajar, bahwa kebaikan dapat menjadi teladan, bukan orangnya tapi sikapnya, apa yang dilakukannya bukan apa agamanya, juga pelajaran tentang keragu-raguan kita yang sering menjadi alasan dalam bertindak melakukan yang benar.
Kata seorang teman, akhir-akhir ini saya lagi mellow-mellownya. Nggak tau sih apa yang buat dia bilang gitu ke saya, tapi saya kan memang orangnya lembut -uwekh..!-. Dari permintaan seorang teman blogging yang meminta saya membuat review musik lagi, temanya adalah musik theme song yang kita banget, yang mengiringi aktivitas kita satu minggu ini. Kalau saya baca review dia sih, bagus sekali, beberapa album diantaranya dari genre classic orchestra yang sampai sekarang saya gak ngerti bagusnya dimana, konon hanya orang-orang yang mengerti komposisi yang menyukai genre ini. Hmm, karena kebetulan satu minggu ini saya lagi break dengerin musik metal terutama nu-metal (never die bro..!), maka saya mengambil alternatif dangdut. Hehe, Ya tidak mungkin lah, akhir-akhir ini saya suka teringat waktu pertama dulu mulai dengerin musik Jepang, mungkin kelas 3 smp, lagu pertama yang saya dengarkan dari Laruku judulnya Niji, saya rasa itu masterpiecenya mereka, aransemennya matang banget. Dari situ juga saya mulai mengenal Visual Kei yang musiknya membuat saya serasa dalam film kartun. Ya, satu minggu terkhir ini sangat menakjubkan, banyak hal yang aneh, serasa hidup dalam film kartun, untuk itu kali ini saya akan review beberapa album Visual Kei yang satu minggu ini rasanya saya banget dari juara satu sampai tiga, hehe.
Nightmare - Historical - The Highest Nightmare
Band yang pernah mengisi soundtracknya Death Note ini menurut saya band yang paling anime. Hmm, karena saya lagi mellow-mellownya, album mereka cocok sekali. Nuansa Japanese Rocknya kental sekali, dengan tempo lagu yang cepat diiringi distorsi tipis twin gitar (atau dengan efek harmonist), sedikit berasa heavy metal. Lirik-liriknya puitis ditambah dengan Chiba yang memiliki suara khas opera dengan range vokal yang bagus, naik turun secara drastis, kadang berat dan tiba-tiba tinggi dengan teknik falsetto yang manis. Bagi sebagian orang, musik mereka kadang terdengar datar dengan tempo cepat yang monoton, tapi menurut saya aransemen mereka bagus, setiap track mempunyai ciri khusus yang kuat, contohnya dalam lagu Jibun no Hana dan Akane. Penampilan mereka juga tidak kalah drastis. Ini adalah album kompilasi sekaligus the best of nya mereka (10th anniversary).
Kagrra - Hyakki Kenran
Saya tidak setuju pendapat yang mengatakan Isshi memilliki suara seorang banci. Bagi saya, suaranya Isshi itu unik, memang agak halus sih. Menurut saya, Kagrra adalah pelopornya Neo-Japanese Music, lagunya punya nuansa timur sekali dengan iringan Koto (alat musik petik tradisional Jepang), yang lebih hebatnya dipadukan dengan instrumen moderen dengan ciri khas permainan drum ala disko. Band yang satu label dengan The Gazette ini tetap konsisten dengan idealisme mereka. Saya suka track2 dan track6 (soalnya judulnya pakai huruf kanji) dari album ini, yang saya rasa punya soul yang unik dan easy listening. Hmm, satu lagi, lagu Shiroi Uso yang saya persembahin buat Mbak Ratna, teman kerja waktu di Yara dulu yang saat ini sedang masa istirahat setelah usus buntunya dienyahkan, hehe. Cepat sembuh ya mbak.
The Gazette - DIM
Ini dia, band yang paling banyak fansnya, di Jepang dan negara-negara lain. Mereka sering tur internasional lho, bahkan katanya udah ngalahin Diru. The Gazette mengaku memiliki musik sendiri yang mereka namakan Gaze Rock. Band yang memiliki tampang cantik ini memiliki musik yang sedikit keras (lagi-lagi, hehe). Tapi ada juga lagu ballad jadul dari mereka yang saya tau cukup terkenal dengan judul Cassis. Dari album ini saya suka dengan lagu The Invisible Wall yang penuh semangat (tapi kok ada kata-kata sup babi nya ya, haha) dan Guren yang santai. The Gazette cocok untuk alternatif bagi yang ingin sesekali tidak mendengar distorsi yang merajalela dengan hentakan beat seperti petir oleh Dir en grey karena musik mereka lebih memiliki rhytm. Sang bassis Reita yang punya ciri khas penutup hidungnya sering melakukan solo action nya di lagu-lagu mereka. Aransemen Hip-Rock juga sedikit terdengar di beberapa lagu mereka yang membuat band ini tidak terlalu monoton.
Yah, itu tadi review tak seberapa saya, hehe. Sebetulnya saya juga ingin menampilkan dua album lagi dari Girugamesh dan Alice Nine. Album terbaru Girugamesh berjudul Go cukup asik juga, tapi karena ya itu tadi saya kan lagi mellow-mellownya jadi gak disertain deh. Jadi ingat pertama masuk kuliah dulu, sering muter Girugamesh - Glamorous Sky, santai tapi asik. Kalau Alice Nine dengan album Gemini, hmm, sebetulnya saya sudah agak bosan jadi gak disertain, tapi pada album ini konsep mereka bagus sekali lho. Yah, setelah merasa satu minggu seperti dalam film kartun, mungkin nanti jadi suka lagi sama death metal, bukan black metal yang sesat itu, tapi lantunan-lantunan indah berisi tentang kehidupan dunia yang sangat fana, kebesaran Tuhan, hanya saja disampaikan dengan cara yang berbeda. Salam Blogging..!
Prolog: atas permintaan dari beberapa orang, akhirnya blog ini mendapatkan sedikit pewarnaan tanpa menghilangkan tema asli yang dirancang oleh Mr. 7 dengan konsep yang disusun oleh Mr. 5 dan yang menjadi penulis adalah Mr. 6. Hitam itu indah, banyak makna yang ingin disampaikannya (Hitam), maha suci Allah..
Die yang terus saja menjejali dengan pertanyaan bodohnya membuat Kyo tak sabar lagi. Selama ini memang Die yang terkenal kritis -sok sibuk- mengurusi keberadaan bandnya yang diambang kehancuran bersama kedua temannya. Idealisme yang diusung Die dalam musiknya selalu memunculkan reaksi negatif pada banyak orang, contohnya saja, kemarin ada orang yang berkata: wah.. wah.. orang gila pada ngeband, teriak-teriak gak jelas kayak setan. Yah, begitulah, sesuatu yang sangat aneh bagi sebagian besar orang justru membuat kami bertiga dapat bersatu. Pernah juga pada suatu hari saat kami pulang dari acara konser Tengkorak, Kaoru langsung mendesain baju anti zionis yang selalu dipakai Ombat (vokalis tengkorak), lalu dibawa kepada temannya yang bekerja pada percetakan dan mencetaknya di kaos (jujur saja, saya dan Die gak berani lho makai kaos itu kemana-mana, hehe).
From Death Metal to Nu-Metal
"tidak ada yang salah dengan growl, hanya saja dalam porsi berlebih, kau akan berkunjung ke rumah sakit untuk mengoperasi pita suaramu.." -Satoshi (ex. Bandit)
Ketertarikan pertama adalah saat Kyo yang mendengarkan lagu Slipknot - The Heretic Anthem, bagi Kyo, lagu ini sangat berarti: selalu ada langit di atas langit, yang kita fikir sudah baik, ternyata ada yang lebih baik, yang kita fikir sudah kuat, ternyata gampang saja dihancurkan disisi Tuhan, hanya Tuhan-lah segala yang terbaik, tak ada batas bagiNya. Salah satu kutipan liriknya: if you are 555, then i'm 666..! wah.. wah.. dalem banget. Seperti biasa, Kyo adalah drummer dengan karakteristik speed metal, dengan alunan beat cepat yang monoton, harus berusaha mengubah tempo permainan beat dengan sesekali slap snare yang dinamis. Penyesuaian yang cepat dilakukan oleh Die, dengan Stratocaster customnya langsung menggunakan stem drop D, terdengar distorsi yang penuh nuansa mistik (konon hanya dapat dilakukan oleh Die). Mengisi kekosongan, Kaoru yang menggunakan pick, harus terbiasa dengan fingered bass (saran saya, hehe) sambil yaa seperti kata orang tadi: teriak-teriak gak jelas kayak setan.
Alter Ego Era
Kembali ke paragraf satu: lalu apakah yang menjadi pertanyaan bagi Die?
Oktober 2010, bulan dimana Kyo mulai mempersiapkan diri untuk mengundurkan diri dari tempatnya bekerja -belajar-. Seorang temannya di tempat kerja sering berdiskusi musik dengan Kyo, kebetulan dia juga pecinta musik rock Jepang. Singkat cerita, temannya itu mengajak Kyo bergabung dengan beberapa temannya yang lain (yang juga punya selera sama) dan mencoba latihan. Saat itu, mereka bingung waktu booking studio atas nama apa, akhirnya Kyo menggunakan nama Plankton & The Patty Stealers, terinspirasi saat sore-sore kehujanan dan lagi nonton Spongebob. Pihak studio kewalahan mengeja namanya, hehe, akhirnya mereka pun mulai latihan dengan lagu pertama mereka dari Gackt - No Reason. Satu hal yang menarik dari lagu ini adalah karaktersitiknya yang animeee sekali, pada mid intro juga ada drum session dengan suara elektrik yang sedikit progressive juga dengan lirik yang indah. Ini versi asli live nya Gackt:
Beberapa lama ikut "bermain" bersama mereka, membuat kabar itu terdengar oleh Die yang langung bertanya: wah.. kurang asem lu ya Kyo, mau mati ya? Dengan cengengesan Kyo menjawab: hehe, ndak kok Mas, aku ora bentuk band baru lho, cuma diajakin sama mas-mas nya ini, ya aku ikut aja, wong gratis. Die yang tak percaya tetap saja melarang Kyo ikut-ikutan orang lain, padahal sebenarnya Kyo juga tahu, disana Die mempunyai band alter ego (mungkin mirip Soneta Group, hehe).
"jadi Die, Kaoru, aku tak pernah punya maksud menghianati kalian, aku hanya seperti seorang anak yang terbiasa bermain di lumpur depan rumah, lalu melihat lautan dan pantai.." -Kyo
Ada seekor Penguin yang sudah banyak sekali membantu saya, dalam pekerjaan, kuliah, maupun sehari-hari. Burung yang tidak bisa terbang ini nggak dibeli lho, kita bisa mendpatkannya dengan harga yang gratis, bahkan kita dapat memodifikasinya dari awal hingga menjadi sangat powerful, hehe. Sudah ah, cukup dongengnya..! Penguin yang satu ini bernama Linux, sebuah Operating System yang saat ini punya reputasi Best of Security yang tulang-tulang pesendiannya (kernel) saat ini sudah mencapai 2.6.x.x. Hebatnya, produk ini dapat dipakai oleh siapa saja tanpa perlu mengeluarkan biaya sepeserpun serta diberi hak lisensi publik untuk pengembangan yang populer dengan singkatan GNU OSS(General Public License Open Source Software). Perkenalan saya dengan Linux berawal ditahun 2004, saat itu kakak lelaki saya yang seorang programmer menggunakan Red Hat 7.
Tahun berganti tahun, saya mengikuti terus perkembangan Linux dan sering sekali saya mencoba Distro (Dstribution OS) yang macam-macam, mulai dari Mandriva 2007 dengan desktop KDE yang indah, Open Suse yang stabil saat menjalankan fitur-fitur 3d, Ubuntu 8.0.4 yang powerful dan distro yang sempat agak lama bercokol di PC saya adalah Slackware 12.1 yang super stabil, sangat powerful, minim dependencies dan satu hal: sangat tidak manusiawi, hehe. Kenapa? karena dibalik kinerja Slackware itu, setiap pengaturan langsung mengacu ke deep control system, pernah suatu kali system saya crash dan windowing nya nggak respon, eh tau-tau Terminal langsung terbuka dan menjalankan perintah exit X-Server (library X adalah library graphic) lalu muncul editor sedrhana yang menampilkan Source program yang crash agar saya Debug di tempat! Hah, mana ngerti..!
Kino
Stop Motion
Kecocokan dengan distro Slackware itu akhirnya mulai menipis saat saya membutuhkan kinerja sistem yang biasa-biasa saja (mungkin karena semester awal-awal kuliah dulu banyak pelajaran programming kali ya, hehe). Hingga saat saya menekuni hobi Fotografi dan Musik, akhirnya saya mulai mencari-cari distro yang mengkhususkan pengembangannya dalam teknik Multimedia. Hmm, alhamdulillah, selalu ada solusi, selalu ada langit diatas langit. Ya, yang dulunya saya fikir distro yang saya gunakan sudah mencukupi kebutuhan saya secara optimal ternyata ada yang lebih fokus terhadap satu hal. Dari hasil pencarian itu akhirnya saya menggunakan Ubuntu Studio 10.10 yang saya insatal akhir bulan Oktober 2010. Desktopnya indah, begitu juga dengan themes defaultnya tapi yang terpenting adalah software bulit-in yang ada didalamnya. Hebat sekali, dari bagian Audio Production ada puluhan software untuk kebutuhan audio recording/producer, MIDI Interface, jack, shyntesizer complete rack, sound effect untuk gitar, bass, dll, analyzer kit dan wah, ampun deh, yang jelas cukup untuk membangun sebuah home studio recording. Begitu juga dari bagian Video Production, aplikasi-aplikasi professional sudah tertanam apik didalamnya, contohnya Kino dan dari bagian Graphics, Blender yang terkenal dalam urusan development 3d juga sudah terinstal. Berikut beberapa review singkat saya tentang aplikasi yang sedikit dari puluhan itu mulai saya gunakan dalam urusan Audio Production.
Ardour
Wah, ini dia program yang membuat saya penasaran, kabarnya Ardour telah banyak dipakai oleh studio-studio rekaman profesinal di luar negeri dan dimodifikasi sesuai kebutuhan mereka. Pertama sekali menggunakannya saya sangat kebingungan, karena terbiasa menggunakan tampilan yang modular seperti Cakewalk Sonar 8, tapi opsi mixing dan keleluasaan mengedit resonansi secara grafikal betul-betul handal. Hmm, i like it!
Hydrogen Drum Machine
Kalau di OS Windows ada aplkasi handal EZDrummer yang terkenal itu dengan template dari berbagai merk drum yang terkenal (terakhir yang saya pakai samapi 3 dvd), di Linux kita punya Hydrogen, masih kalah sih, tapi lumayan lah. Kita dapat dengan mudah create sample beat dengan fasilitas metronome. Mixing Rack nya juga komplit, kalau masih kurang, masih ada puluhan aplikasi Shyntesizer dan Mixing yang powerful dan pastinya cukup membuat saya sakit kepala, hehe.
Zynaddsub Shyntesizer
Jadi malu sih, saat OS ini menyediakan begitu banyak aplikasi Sound Producing tapi hanya beberapa saja yang dapat saya operasikan. Lanjut ke Zynaddsub Shynth, dengan modal kemampuan piano yang sangat pas-pasan, saya coba create satu sample MIDI, dan seperti yang saya duga sebelumnya, permainan saya sangat jelek (itulah gunanya komputer) simsalabim, beberapa nada yang out pitch pun bisa dikembalikan kejalan yang benar dan lurus (memangnya sinetron?). Saat membuatnya saya menggunakan keyboard Roland GX tahun 1992 versi berapa saya lupa, kepunyaan Uwak saya yang hobi musik.
Hmm, itu tadi review dari super newbie, mungkin nanti saya akan menulis lagi tentang perkembangan pembelajaran saya. Kepada para Blogger, mohon bimbingannya..! Hehe..
Suatu malam, saat berkumpul dengan teman-teman, bercerita panjang lebar, tertawa terbahak-bahak dan yang pasti hari itu adalah tadi malam. Seorang teman bertanya: Yud, kenapa coba Indonesia ini dipimpin sama orang-orang tolol yang hobinya nyusahin yang udah susah? lalu saya terdiam sejenak dan menjawab: mungkin dulunya mereka waktu muda ya kayak kita-kita ini, kritik sana-sini tapi gak buat apa-apa, hmm.. kenapa kita gak buat sesuatu? ya mungkin juga karena kita gak tau apa-apa jadi bisanya cuma kritik, sama dong kayak mreka yang bisanya cuma ngomong. Mendengar hal itu, teman saya tampak sedikit berfikir, lalu membalas: tapi kan, mereka digaji mahal untuk itu, huh.. kalau itu aku pasti gak ada lagi birokrasi tolol semacam ini. Saya agak geli mendengar perkataannya, lalu saya jawab saja: wah, buat apa berandai diri menjadi ini-itu, sementara hidup yang diberikan sekarang saja belum disyukuri, kenapa harus bicara banyak tentang perbuatan kebaikan? bukankah sebaik-baik perbuatan adalah taubat? cobalah menunjukkan sesuatu tidak dengan perkataan, tapi dengan perbuatan, karena, tanpa kita sadari banyak orang dapat berkata baik, tapi perbuatannya tidak, dan mungkin orang-orang itu adalah kita. Apalagi kita tahu, bahwa semua orang melihat langsung perilaku dan perbuatan kita sehari-hari, dan belum tentu mendengarkan perkataan kita. Setelah itu, kami sama-sama terdiam, lalu tiba-tiba tertawa keras, terbahak-bahak lagi, sesuatu tersadar dalam diri kami, kami menertawai diri kami sendiri.
Saat itu sekitar jam 20.30, tiba-tiba teman saya yang satunya lagi masuk ke dalam mobil yang diparkir di dekat kami duduk di rerumputan. Dia menyalakan cd audio kepunyaannya, DragonForce, album Ultra Beatdown (2008). Lagu pertama: Heroes of Our Time, band ini memang sangat kami sukai, DragonForce, berasal dari Inggris mengusung aliran Power/Speed Metal. Kalau saya sih menjulukinya band 100 km/jam, karena lagunya kencaaang sekali.
Single ini sangat mencirikan musik-musik NWOBHM (new wave of british heavy metal). Waktu kecil sih, dulu lumayan agak familiar sama musik-musik seperti ini. Maklum, abang saya dulu sering memutar radio dengan lagu-lagu keras. Yah, mungkin bagi penikmat musik jadul akan kembali teringat sama band Helloween. Cirikhas speed metal yang menggunakan double melody, solo gitar yang panjang serta drum double bass. Dulu juga sempat dipopulerkan oleh Metallica, Slayer, Panthera, dll, bedanya DragonForce menggunakan lirik-lirik yang tidak kotor. Kata-katanya puitis, bahkan untuk ukuran musik metal, liriknya seperti lagu ballad. Saya suka melihat aksi Herman Li (gitaris) saat solo, jari-jemarinya seperti kerasukan, hehe >:), teknik shredder nya luar biasa. Kalau di Jepang, orang-orang akan mengacu pada X-Japan, beraliran speed metal juga, sayangnya band ini bubar saat Hide (gitaris) meninggal.
Kembali ke cd player, saat single pertama habis. Saya teringat sesuatu dalam tas kecil yang saya bawa, didalamnya ada flashdisk, dan seingat saya beberapa bulan yang lalu saya mendownload sebuah lagu Nu-Metal, band Indonesia. Band yang satu ini sangat unik, vokalisnya: Thufail Al-Gifari, penyanyi nasyid dan rapper yang saya sukai. Pertama kali mendengar Thufail adalah tahun 2008 saat menjadi bintang tamu di kampus saya, sewaktu menjadi panitia seminar umat HTI. Thufail selalu menyanyikan lagu-lagu tentang penderitaan Palestina yang tak pernah tersorot publik. Sekarang dia tetap menyanyikan lagu nasyid, tapi juga membentuk sebuah band dengan aliran Death Metal, Islamic Death Metal tepatnya. Band itu bernama The Roots of Madinah, mereka sudah mengeluarkan satu EP album berjudul Konfrontasi Teror. Single yang saya putar adalah: Dari Jakarta Hingga Jalur Gaza, lagu ini dibuat dengan matang, dapat didengar dari riff gitar yang padat, distorsi sangat menggigit serta gebukan drum yang dinamis dan agak sedikit Rock 'n Roll. Gak nyangka, thufail bisa nge-Growl dan nge-Scream juga kaya Slipknot. Band Islamic Grindcore Indonseia yang gak kalah keren dan juga dedengkotnya band keras Indonesia adalah Tengkorak.
Wah, karena flashdisk saya sudah terlanjur memutar beberapa lagu di cd player tersebut, lagu selanjutnya adalah Downfall (The Battle of Uhud) atau bahasa Indonesianya Kekalahan (Perang Uhud). Lagu ini dibawakan oleh band yang sangat menginspirasi saya, Purgatory. Pertama sekali mengenal band ini adalah dari seorang teman, Rudi. Dulu, dia melihat saya sedang mendengarkan mp3 player lagu-lagu Slipknot yang penuh dengan kata maki-makian dan kotor yang tak layak didengar, lalu dia menyodorkan mp3 playernya dan menyuruh saya mendengarkan koleksinya, setelah didengar, saya sangat menyukainya dan langsung bertanya band apa ini, keren tarikan growlnya, distorsinya juga pedes. Lalu dia memberitahukan tentang Purgatory, dan saya pun sekarang sudah punya semua album Purgatory, hehe. Lagu Downfall (The Battle of Uhud) sendiri bercerita tentang pasukan Nabi Muhammad SAW yang kalah pada perang Uhud, Padahal saat itu Nabi sudah menasehati, dan memberitahu strategi perang, tapi mereka tak melaksanakannya. Akhirnya kekalahan yang pahit itu sungguh sangat membuat mereka menyesal.
terjemahan syairnya:
“Kami perangi kalian di saat kalian melanggar perjanjian yang sudah ada
Keyakinan kami, demi ALLAH kami tak akan mundur
Celaka, sirkulasi kekerasanmu tak pernah berhenti
Malapetaka, kalian menciptakan (sendiri) masa jahiliyah
Kalian merasa kalian telah menjadi penentu takdir sendiri
kalian percaya kalau kejayaan (di dunia) adalah keabadian yang pasti
Kesesatan, terjebak dalam kekuasaan, harga diri, status, uang dan kesombongan
Padang Mahsyar, adalah masa yang benar-benar paling pahit dan menyedihkan
Kita semua akan menghadapi persidangan Padang Mahsyar”
(Sementara kami sedang berada di tengah perang melawan jahiliyah)
Godaan membisikkan keserakahan dalam barisan kami
(lalu) yang tersisa dalam akal sehat hanyalah keinginan berperang demi harta
Tak bisakah kau tahan untuk tetap menyadari
bahwa (selama ini) keyakinanlah yang selalu mengalahkan rasa takut kita
Semua (hal) duniawi telah membutakanmu
Kami di sini bukan demi imbalan semurah itu, bukan untuk mengkhianati apa yang selama ini diperjuangkan
Keserakahan dalam berjuang adalah kekalahanmu
Seharusnya kalian taat pada kata-kata Rasulullah (Sholallahi 'Alaihi Wassalaam)
Tak bisakah kau tahan untuk tetap menyadari
bahwa (selama ini) keyakinanlah yang selalu mengalahkan rasa takut kita
Semua (hal) duniawi telah membutakanmu
Kami tak akan goyah demi imbalan semurah itu, tak akan mengkhianati apa yang selama ini diperjuangkan
Kami yakin kita akan dapatkan lebih (dari itu),
serakahmu akan menjadi kekalahan nyata bagi kita semua
Kesulitan yang kita rasakan ini tak akan lama,
tapi serakahmu akan menjadi kekalahan nyata bagi kita semua..
Lagu-lagu Purgatory sangat inspiratif bagi saya, mereka sangat menekankan untuk mengejar kebaikan hidup yang sebenarnya, yaitu kebaikan Akhirat. Dari lirik-lirik mereka juga mengingatkan agar tidak berputus asa pada ampunan Tuhan, walau di waktu yang dulu kita telah melakukan sangat banyak dosa.
Hmm.. mendengarkan musik sudah, review single juga sudah, karena semuanya sudah, jadi sudah dulu yaa..