Jumat, 31 Januari 2014

Kyo Daily Notes 10

Wah, sudah lama saya tidak melanjutkan postingan dengan judul bersambung ini. Dan ini jadi postingan daily notes pertama di 2014, hehe. Sebetulnya belum ada yang ingin dibagi oleh Kyo, cuma kemarin dikirim foto dari teman waktu liburan di Panyabungan dari kamera pro nya, tambahin teks dikit biar keliatan kayak album, weleh, haha.


Sabtu, 18 Januari 2014

Malam Minggu

Yah, semua tau, masuk kerja hari sabtu itu menyebalkan, tapi tidak bagi saya kali ini. Saya malah suka hari ini masuk kayak biasa, karena di rumah juga lagi sendirian. Bahkan tadi saat udah pulang sekalipun saya masih milih nongkrong-nongkrong di kedai rokok dekat kantor ngobrol gak jelas. Magrib juga di masjid yang gak jauh waktu jalan sambil pulang. Untunglah teman-teman yang lain alias jomblers yang gak punya kewajiban malam minggu datang nemenin walaupun gak jelas dan cuma bikin ribut-ribut aja. Hmm, daripada sendirian juga lama-lama bisa stres.


pro: makasih bluetoothnya, langsung tak share masbro, kwek.. kwek.. kwek..

Minggu, 12 Januari 2014

Plant Project #2



Saya masih aja suka tanam-menanam, walaupun saya terbukti gagal pada lahan yang lebih besar kemarin. Kata teman saya sih saya tipenya "panas-panas tai ayam", artinya semangat di awal-awal aja, hehe. Kali ini saya coba menanam Jahe. Metode penanamannya adalah dengan menimbun setiap tunas yang mulai naik. Hal ini dilakukan agar setiap timbunan akan muncul akar dan umbi jahe baru, dengan kata lain kita akan mendapatkan jahe satu keranjang saat tidak bisa ditiymbun lagi. Di foto sudah tiga keranjang dengan umur dua bulan, yang lain masih satu bulan, alhamdulillah sudah sekali timbun. Oke sahabat-sahabat, isi liburannya dengan hal bermanfaat ya.

posted from Bloggeroid

Rabu, 08 Januari 2014

Then..

Kuharap rindu ini tak lagi dahaga dengan diam yang kau minta..
Karena tak ada alasanku, alasan kita berdua, untuk berhenti menjadi lebih baik..
Ya..

posted from Bloggeroid

Jumat, 03 Januari 2014

Journal: Ride for Life

Berpose dangdut
Assalamualaikum sahabat semuanya, gimana liburannya?. Alhamdulillah, segala kebaikan untuk Allah yang telah memberi kita nikmat waktu dan kesehatan. Kali ini saya kembali menyambung tulisan perjalanan yang terangkum dalam kegiatan Systematic Chaos Backpacking III bersama teman saya Sugi. Kalau yang kemarin saya bercerita tentang pengalaman kami mengunjungi Panyabungan dan keindahan alamnya yang natural, kali ini saya akan bercerita soal perjalanan pulang kami yang menggunakan sepeda motor dalam waktu 16 jam..! haha.

View laut Sibolga, tak jauh dari perbatasan kota
Tepatnya tanggal 26 Desember 2013, kami menutup perjalanan kami dan pulang dari Panyabungan menuju Rantauprapat dengan rute melalui Danau Toba. Tentunya itu bukan rute yang wajar, karena secara normal perjalanan tersebut seharusnya sama dengan rute perjalanan pergi yaitu via Padang Sidempuan. Tapi ya karena kami sedikit gila, kami memilih rute yang lebih panjang untuk tujuan menambah destinasi travel.

Pantai kota Pandan, dekat Sibolga
Dari kota Panyabungan, kami mulai bergerak jam 6 pagi, lalu sampai di kota Padang Sidempuan jam 8 pagi dan sarapan sampai jam 9. Kami mencari oleh-oleh khas yaitu buah Salak. Ya, kota Sidempuan memang identik dengan Salaknya yang manis, tapi karena perjalanan kami menggunakan sepeda motor, kami hanya mampu membawa 3 kg saja, yah cukuplah untuk sekedar oleh-oleh untuk keluarga. Kami lanjutkan perjalanan menuju pesisir barat Sumatera, kota yang kami tuju adalah Sibolga.

Cuacanya agak terik, jadi males mandi-mandi
Pantai Hotel Bumi Asih bisa dijadikan pilihan yang tepat saat berada di Pandan
Jam 11 kami sudah berada di kota Sibolga. Kota ini adalah salah satu kota pelabuhan di pesisir barat Sumatera yang terkenal dengan hasil lautnya berupa ikan asin dan ikan teri Sibolga. Waktu kecil saya dan keluarga pernah tinggal di Tarutung yang hanya berjarak 1,5 jam dari Sibolga. Jadi, beberapa kali liburan kami dulu sering dihabiskan dengan memancing di laut. Kota Sibolga ini cukup panas udaranya, maklum pinggir laut. Karena sebetulnya ini perjalanan pulang, jadi kami tak bisa terlalu lama bersantai di pinggir pantai. Walaupun cuaca sedang terik kami melanjutkan perjalanan menuju kota Tarutung.

Sopo Partungkoan, Tarutung
Mulai memasuki daerah Tarutung yang berada di dataran tinggi, udara mulai berubah, dari mulai sejuk, lalu dingin, dan kami kedinginan, hehe. Sampai di kota ini saya merasa seperi pulang kampung. Ya, saya pernah menghabiskan beberapa tahun yang bahagia di kota ini. Kota ini disebut juga Kota Wisata Rohani, karena terdapat banyak peninggalan para misionaris Kristen di era-era awal masuknya agama ke Tapanuli Utara. Contohnya adalah Salib Kasih, bangunan Salib besar yang berada di puncak gunung yang terlihat dari segala penjuru Tarutung.

Pose laknat Sugi
Kami tak sempat mengunjungi tempat wisata di Tarutung, karena sampai di sini saja sudah sekitar jam 2 siang. Kami harus makan siang terlebih dahulu, padahal kalau sempat kami rencananya ingin ke Air Soda, yang merupakan pemandian mata air yang mengandung semacam soda dan airnya terlihat selalu mengeluarkan gelembung-gelembung kecil, yah, seperti minuman bersodalah. Katanya sih cuma ada dua di dunia, padahal waktu SD saya sering banget mandi sama teman-teman sekolah di sana, sayang kami tak sempat berkunjung.

Bertengger di pinggir jurang demi pose
Kami makan siang di daerah Sipoholon, desa yang tak jauh dari Tarutung yang terkenal dengan pemandian Air Panasnya. Karena iklim di Tarutung itu cukup dingin, kami jadi cepet lapar (padahal memang rakus). Tapi yang perlu saya beritahu kepada teman-teman, agak sulit mencari makanan halal di kota ini, maklum mayoritas penduduknya adalah Kristen. Jadi perlu sedikit berhati- hati.

Setelah makan siang, perjalanan dilanjutkan lagi menuju Balige. Yah, kota indah di pinggir danau Toba ini juga sewaktu kecil sangat sering saya kunjungi bersama keluarga saya, karena jarakanya hanya memerlukan waktu sekitar 1,5 dari Tarutung.

Kamen Rider Ryuga sebelum Henshin (berubah)
Sahabat bisa membaca tulisan saya tentang Balige yang indah di sini.

Dari Tarutung menuju Balige kita akan disuguhi panorama hutan Pinus yang sejuk dan view danau toba setelah melewati desa Lintong Nihuta. Kami beristirahat sebentar di Balige, maklumlah, sejauh ini saja jami sudah 13 jam di atas sepeda motor, masih ada 3 jam lebih lagi untuk mencapai Rantauprapat. Kami berhenti sebentar di Siguragura, melepas lelah sejenak dan berfoto ria. Sampai di sini kelelahan kami sedikit berkurang, tapi hari sudah semakin gelap kami harus tetap lanjut. Ahirnya, jam 10 malam kami sampai dengan selamat di kota Rantauprapat, dengan kesenangan yang tak terbayarkan dan pastinya kelelahan yang tak terbayarkan juga. Ini adalah salah satu pengalaman terseru dalam hidup saya. Systematic Chaos Backpacking III: Ride for Life, Life for Ride.


The End