Tampilkan postingan dengan label rantauprapat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rantauprapat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 April 2015

Rantauprapat: Pandayangan & Simonis

Arus deras Pandayangan
Hai sahabat semua. Karena saya sudah kembali ke dunia tulis-menulis blog (dan lagi semangat-semangatnya), kali ini saya mau cerita jalan-jalan sama dua sahabat saya Rudi dan Surya. Jadi ceritanya Surya yang selama ini tinggal di Jakarta datang ke Rantauprapat untuk satu keperluan. Kami udah lama gak ketemuan, jadi singkat cerita di hari kerja (loh..?) Surya ajak saya dan Baban (panggilan Rudi) jalan-jalan karena dia bosen tinggal di penginapannya.

Airnya jernih dan segar, batu-batunya juga curam, cocok buat uji nyali
Saya dan Baban sebagai tuan rumah ya oke-oke aja, selain kami juga kurang kerjaan kami juga tau pasti kalo nanti pulangnya Surya bakal traktir makan, haha. Kami jalan ke daerah Silangkitang, tempat wisata alam Pandayangan berada, jaraknya sekitar 1 jam dari Rantauprapat. Jalan ke sana aspal mulus sepanjang perkebunan karet dan sawit.

Tempatnya bisa juga dijadiin arena main arung jeram kayaknya
Hmm, gimana ya, Pandayangan ini menurut saya punya potensi. Sungai dengan arus yang deras dengan banyak batu besar dan bertangga-tangga membuat tempat ini sedikit menantang. Tapi agak sedikit ngeri juga sih buat mandi disni, disamping kami gak lihai berenang, konturnya yang bertangga-tangga dengan arus deras sedikit mengerikan, hehe. Tapi tenang aja, lebih ke atas sedikit airnya lebih tenang kok, di sekitar itu banyak keluarga yang bercebur main air. Oke cukup main di Pandayangan, sekarang kita cabut ke daerah Simonis.

Sungai Simonis yang jernih bikin Surya gak sabar nyemplung
Jika Silangkitang berada ke arah selatan Rantauprapat, Simonis sebaliknya, yaitu arah ke Utara di dekat Kampung Pajak. Dari Rantauprapat juga perjalanannya sekitar 1 jam melalui jalan lintas Sumatera.

Sungainya lebih bersahabat untuk mandi-mandi airnya juga sangat jernih
Saya sih lebih seneng ke tempat ini, karena lebih cocok untuk main air, batu-batunya juga gak gede-gede amat. Airnya dingin, mungkin karena mengalir langsung dari gunung. Sepanjang sungai juga masih banyak pohon-pohon besar yang menambah keindahan tersendiri. Kami langsung nyebur begitu sampai tempat ini walaupun gak bawa baju ganti. Jadi, ya basah-basahan, paling buka baju atasan doank abis itu berenang tak menetu, hehe.


Masuk ke sesi foto-foto

Mukanya Baban lagi nyari cewe mandi
Narsis sekali-sekali gak papa dunk ya..
Di tempat ini juga kemarin kami ketemu sama beberapa bapak-bapak yang kurang kerjaan, ups, maksud saya nyari batu akik. Saya sih gak yakin disini ada batu berharga tapi mereka tetep aja optimis. Mereka nyelam-timbul-nyelam-lagi ngeliat ke dasar sungai yang jernih. Ah, biarin aja lah namanya juga usaha ya pak, haha. Overall, begitulah cerita singkat jalan-jalan kami kemarin, sahabat juga kalo berkunjung jangan lupa bilangin saya biar saya minta traktir, haha. Oke, karena mandi-mandinya udah puas, kami pulang dengan basah-basah ke rumah masing-masing. :)

Jumat, 03 Januari 2014

Journal: Ride for Life

Berpose dangdut
Assalamualaikum sahabat semuanya, gimana liburannya?. Alhamdulillah, segala kebaikan untuk Allah yang telah memberi kita nikmat waktu dan kesehatan. Kali ini saya kembali menyambung tulisan perjalanan yang terangkum dalam kegiatan Systematic Chaos Backpacking III bersama teman saya Sugi. Kalau yang kemarin saya bercerita tentang pengalaman kami mengunjungi Panyabungan dan keindahan alamnya yang natural, kali ini saya akan bercerita soal perjalanan pulang kami yang menggunakan sepeda motor dalam waktu 16 jam..! haha.

View laut Sibolga, tak jauh dari perbatasan kota
Tepatnya tanggal 26 Desember 2013, kami menutup perjalanan kami dan pulang dari Panyabungan menuju Rantauprapat dengan rute melalui Danau Toba. Tentunya itu bukan rute yang wajar, karena secara normal perjalanan tersebut seharusnya sama dengan rute perjalanan pergi yaitu via Padang Sidempuan. Tapi ya karena kami sedikit gila, kami memilih rute yang lebih panjang untuk tujuan menambah destinasi travel.

Pantai kota Pandan, dekat Sibolga
Dari kota Panyabungan, kami mulai bergerak jam 6 pagi, lalu sampai di kota Padang Sidempuan jam 8 pagi dan sarapan sampai jam 9. Kami mencari oleh-oleh khas yaitu buah Salak. Ya, kota Sidempuan memang identik dengan Salaknya yang manis, tapi karena perjalanan kami menggunakan sepeda motor, kami hanya mampu membawa 3 kg saja, yah cukuplah untuk sekedar oleh-oleh untuk keluarga. Kami lanjutkan perjalanan menuju pesisir barat Sumatera, kota yang kami tuju adalah Sibolga.

Cuacanya agak terik, jadi males mandi-mandi
Pantai Hotel Bumi Asih bisa dijadikan pilihan yang tepat saat berada di Pandan
Jam 11 kami sudah berada di kota Sibolga. Kota ini adalah salah satu kota pelabuhan di pesisir barat Sumatera yang terkenal dengan hasil lautnya berupa ikan asin dan ikan teri Sibolga. Waktu kecil saya dan keluarga pernah tinggal di Tarutung yang hanya berjarak 1,5 jam dari Sibolga. Jadi, beberapa kali liburan kami dulu sering dihabiskan dengan memancing di laut. Kota Sibolga ini cukup panas udaranya, maklum pinggir laut. Karena sebetulnya ini perjalanan pulang, jadi kami tak bisa terlalu lama bersantai di pinggir pantai. Walaupun cuaca sedang terik kami melanjutkan perjalanan menuju kota Tarutung.

Sopo Partungkoan, Tarutung
Mulai memasuki daerah Tarutung yang berada di dataran tinggi, udara mulai berubah, dari mulai sejuk, lalu dingin, dan kami kedinginan, hehe. Sampai di kota ini saya merasa seperi pulang kampung. Ya, saya pernah menghabiskan beberapa tahun yang bahagia di kota ini. Kota ini disebut juga Kota Wisata Rohani, karena terdapat banyak peninggalan para misionaris Kristen di era-era awal masuknya agama ke Tapanuli Utara. Contohnya adalah Salib Kasih, bangunan Salib besar yang berada di puncak gunung yang terlihat dari segala penjuru Tarutung.

Pose laknat Sugi
Kami tak sempat mengunjungi tempat wisata di Tarutung, karena sampai di sini saja sudah sekitar jam 2 siang. Kami harus makan siang terlebih dahulu, padahal kalau sempat kami rencananya ingin ke Air Soda, yang merupakan pemandian mata air yang mengandung semacam soda dan airnya terlihat selalu mengeluarkan gelembung-gelembung kecil, yah, seperti minuman bersodalah. Katanya sih cuma ada dua di dunia, padahal waktu SD saya sering banget mandi sama teman-teman sekolah di sana, sayang kami tak sempat berkunjung.

Bertengger di pinggir jurang demi pose
Kami makan siang di daerah Sipoholon, desa yang tak jauh dari Tarutung yang terkenal dengan pemandian Air Panasnya. Karena iklim di Tarutung itu cukup dingin, kami jadi cepet lapar (padahal memang rakus). Tapi yang perlu saya beritahu kepada teman-teman, agak sulit mencari makanan halal di kota ini, maklum mayoritas penduduknya adalah Kristen. Jadi perlu sedikit berhati- hati.

Setelah makan siang, perjalanan dilanjutkan lagi menuju Balige. Yah, kota indah di pinggir danau Toba ini juga sewaktu kecil sangat sering saya kunjungi bersama keluarga saya, karena jarakanya hanya memerlukan waktu sekitar 1,5 dari Tarutung.

Kamen Rider Ryuga sebelum Henshin (berubah)
Sahabat bisa membaca tulisan saya tentang Balige yang indah di sini.

Dari Tarutung menuju Balige kita akan disuguhi panorama hutan Pinus yang sejuk dan view danau toba setelah melewati desa Lintong Nihuta. Kami beristirahat sebentar di Balige, maklumlah, sejauh ini saja jami sudah 13 jam di atas sepeda motor, masih ada 3 jam lebih lagi untuk mencapai Rantauprapat. Kami berhenti sebentar di Siguragura, melepas lelah sejenak dan berfoto ria. Sampai di sini kelelahan kami sedikit berkurang, tapi hari sudah semakin gelap kami harus tetap lanjut. Ahirnya, jam 10 malam kami sampai dengan selamat di kota Rantauprapat, dengan kesenangan yang tak terbayarkan dan pastinya kelelahan yang tak terbayarkan juga. Ini adalah salah satu pengalaman terseru dalam hidup saya. Systematic Chaos Backpacking III: Ride for Life, Life for Ride.


The End

Sabtu, 28 Desember 2013

Journal: A Journey to The South

Masjid Agung di pinggiran sungai Batang Gadis, Panyabungan
Assalamualaikum sahabat..! Alhamdulillah, syukur yang terdalam untuk Allah yang telah memberi kita nikmat waktu dan kesehatan. Kali ini saya kembali ingin menuliskan catatan perjalanan yang termasuk dalam seri Systematic Chaos Backpacking yang alhamdulillah, kali ini sudah musim ketiga. Ada sedikit perbedaan dari perjalanan sebelumnya, sangat berpengaruh tentunya, perbedaannya adalah partnernya. Ya, kali ini saya tidak bersama dengan Mr. Kribo alias Baban alias Rudi.

Perjalanan kali ini bersama Sugi
Sugiharto Tri Prasetyo nama lengkapnya, lebih dangdut dari Baban, naif, dan tidak penakut. Perbedaan kedua yang cukup mendasar juga yaitu tentang cara bepergian, kami menggunakan sepeda motor sepanjang sekitar 710 km total perjalanan.

Destinasi kali ini adalah Panyabungan, ibu kota kabupaten Mandailing Natal. Normalnya dengan mobil waktu tempuh sekitar 5 jam, dan kami hanya membutuhkan kurang dari 4 jam untuk sampai, hehe. Saya pilih kota ini karena permintaan teman saya dulu yang sama bekerja di CIMB, namanya bang Nilwan, hanya saja dulu kami di unit yang berbeda. Jadi ceritanya bang Nilwan juga sudah keluar dari bank tempat kami bekerja dulu dan membuka perusahaan kontraktor sendiri yang menangani pekerjaan umum. Hhh, enakya, dia keluar dari bank sekarang berhasil, eh saya gini-gina aja, weleh-weleh, ups.

Bang Nilwan di kantornya
Beruntung banget, selama di Panyabungan, semua keperluan dan kegilaan travel kita diakomodasi sama eksekutif muda teman saya bang Nilwan. Thanks banget bang, semoga kebaikannya dibalas oleh Allah.

Kami dibawa berkeliling, makan-makan, dan lain sebagainya. Ada cukup banyak pilihan wisata alam di Panyabungan ini mulai dari pemandian air panas yang air belerangnya bersumber langsung dari gunung yang masih aktif, wisata tempat bersejarah, dan panorama alam yang masih asli.

Danau Marambe menjelang Maghrib
Kami start perjalanan tanggal 24 pagi dari Rantauprapat sekitar jam 9 pagi, lalu jam 1 siangnya kami sudah berada di Panyabungan, langsung menikmati makan siang. Sore harinya kami diantar ke danau Marambe pakai mobil bang Nilwan yang keren, hehe. Jarakmya sekitar 20 menit dari pusat kota.

Narsis bersama
Danau atau kalau saya sih lebih cocok menyebutnya telaga Marambe ini terletak di perbukitan. Dengan udara yang masih sejuk dan asri, tempat ini bisa menjadi pilihan untuk menghabiskan waktu bersantai.

Bagi sahabat yang hoby mancing, tempat ini recomendedlah. Soalnya disini ikannya gede-gede dan kita difasilitasi oleh cafe sekitar danau untuk memanggang langsung hasil tangkapan.

Kepengen mancing tapi gak sempat
Santai-santai sebentar sambil menikmati minuman dingin, setelah itu kami bergerak ke arah lokasi Sumur Sampuraga. Menurut cerita rakyat setempat, sumur Sampuraga ini terbentuk seperti yang ada dalam kisah seorang anak yang durhaka kepada Ibunya. Yah, kalau menurut saya mirip-mirip Malin Kundang laah.

Sumur Sampuraga
Sumur tersebut sebetulnya adalah mata air panas yang keluar dari perut bumi. Gelembung-gelembung yang menggelegak menandakan air tersebut sangat panas oleh sebab itu lokasi dipagari. Di sekitar lokasi tersebut memang terdapat banya titik sumber air panas yang mengandung belerang. Jadi kalau sobat baru pertama kali berkunjung nanti, jangan saling tuduh bilang temannya kentut, karena itu adalah aroma belerang.

Kolam air panas yang tidak jauh dari sumur
Satu hal yang disayangkan dari tempat ini adalah mulai terbengkalainya prasarana menuju site maupun di lokasi. Seharusnya pemda setempat bisa lebih merawat tempat ini karena masih memiliki potensi historis maupun wisata.

Teman saya berkata orang-orang sering merebus telur di tempat ini, yah, paling hanya butuh waktu sekitar 2 menit. Menjelang malam kami pulang, karena lokasi tidak memiliki penerangan yang memadai dan lumayan jauh dari pemukiman.

Kopi Takar, dalam bahasa Mandailing yang artinya Kopi Tempurung
Malam hari yang cukup dingin enaknya menikmati kuliner khas Mandailing yaitu Gulai Ikan Sale, yang merupakan ikan yang diasapi beberapa lama sampai bagian dalam masak dan bagian luar kering menghitam, sensasi aroma asapnya sangat nikmat denga bumbu gulai yang cenderung pedas.

Ngopi dulu ah..
Satu lagi yang khas dari Panyabungan adalah Kopi Takar. Kopi dari jenis Arabika ini diolah secara manual denga proses tradisional. Lumayan strong tapi strukturnya sangat smooth, ditambah dengan campuran rempah dan kayu manis.

Kopi takar ini sangat mantap rasanya, apalagi dinikmati di dinginnya malam sambil bersenda gurau dengan teman-teman.

Rumah Raja yang masih dihuni oleh keturunannya
Pagi yang cerah setelah beristirahat dengan nyaman. Tak jauh dari pusat kota kami menuju kompleks rumah adat Mandailing, yang dulunya digunakan oleh Raja yang memerintah. Kompleks masih sangat terawat, pada beberapa waktu terdapat pertunjukan tradisional tahunan yang diadakan di tempat ini. Sayang, saat kami berkunjung belum waktunya.

Paya Bulan
Sekitar jam 10 pagi, kami berpindah ke lokasi yang bernama Paya Bulan. Tempat ini adalah hamparan padang rumput yang luas yang terhampar di kaki gunung Sorik Marapi. Sering dijadikan tempat piknik keluarga, letaknya di tengah persawahan yang luas. Dari pusat kota kita hanya perlu menempuh setengah jam. Ini beberapa gambar yang kami ambil.


Bergaya angkuh
Saya suka tempat ini, saya suka ketenangan dan angin sepoi-sepoinya. Kayaknya bisa juga nih dijadiin tempat main Golf, hehe.

Bagi sobat yang juga butuh ketenangan, saya recomended juga deh Paya Bulan ini. Rasanya di padang rumput yang luas begitu kita bisa teriak sekencang-kencangnya. :P

Ki-Ka: Saya, bang Nilwan, Sugi, bang Ihsan

Saatnya mandi air panas, dan dari sekian banyak pemandian air panas yang ada di Panyabungan, kami cuma berkunjung ke Air Panas Sibanggor, tempatnya berada agak ke puncak gunung, semakin naik udaranya semakin dingin, makin cocok untuk mandi air panas.

Air panas Sibanggor
Dengan latar belakang persawahan dan alam terbuka, menjadi sensasi tersendiri berendam dalam kolam dan aliran sungai buatan yang memiliki level-level panas tertentu. Menurut penduduk setempat, air panas yang mengandung belerang ini juga sangat efektif untuk penyakit-penyakit kulit. Saran saya, kalau sobat baru pertama kali mandi seperti ini, cobalah perlahan pada air yang tidak terlalu panas agar tidak terlalu kaget.

Bebatuan Belerang
Dari dalam celah-celah bebatuan terdengar suara berisik dan air mendidih. Kalau terlalu dekat bisa bahaya juga sepertinya. Tapi sensasinya seperti berada di sauna juga.

Saya lupa nama tempat kami berandam yang seperti sungai di bawah ini. Yang saya ingat letaknya tidak begitu jauh dari pemandian Sibanggor, paling hanya sekitar 10 menitan.

Pemandian air panas khusus laki-laki, tidak terlalu panas
Panasnya pas untuk berendam
Selesai berendam, mandi-mandi, dan makan lagi, hehe, kami bergerak ke arah jalan lintas Natal. Terdapat sebuah tempat yang biasa disebut panatapan atau dalam bahasa Indonesia-nya tempat melihat-lihat.

Desa Sopotinjak
Lokasi panatapan tersebut adalah desa Sopotinjak, desa yang terletak antara kecamatan Panyabungan dan kecamatan Natal. Kita bisa menikmati panorama pegunungan yang terhampar luas. Terdapat banyak restoran sepanjang panatapan yang bisa kita gunakan untuk bersantap ria sambil memandang-mandang.

View dari panatapan
Sambil menikmati kuliner
View dari panatapan
Di udara pegunungan yang dingin seperti ini enaknya menikmati segelas teh manis hangat sambil makan jagung bakar yang banyak di juas di sepanjang pinggiran lokasi. Sobat tidak perlu kawatir soal harga di tempat ini, karena menurut saya semuanya serba murah, enak, dan yang pastinya sensasinya sangat nikmat sambil kita bersantai menghilangkan penat.

Hari semakin malam, saatnya kami kembali ke rumah, tidak rumah saya maksudnya, tapi rumahnya bang Nilwan. Kami harus beristirahat, karena kesokan paginya kami akan melanjutkan perjalanan yang sekaligus menjadi perjalanan pulang. Jadi ceritanya masih bersambung nih, sampai jumpa sahabat semuanya. Salam liburan, salam jepret..!


Jumat, 27 Desember 2013

Akhirnya Pulang (III)


Sedikit nyali, sedikit rasa ingin tau, 710 km, keras - lembut angin, rasa takut tapi tak yakin karena puas. Systematic Chaos Backpacking III: Ride for Life, Life for Ride..

Senin, 25 November 2013

Yang item manis, yang merah asem



Gak tau namanya apa, penasaran langsung tak cobain, eh ternyata gak mati keracunan, hehe.

posted from Bloggeroid

Jumat, 22 November 2013

Journal: King Of The Hill (Part.II)

Sebelumnya: King Of The Hill (Part. I)

View dari bukit Pamingke

Gitu nyampe langsung narsis

Memikirkan gajian yang masih lama

Salam dangdut..

Lokasi: Bukit Pamingke, Rantauprapat
Waktu: 18 November 2013, sekitar jam 05.30 sore
Camera360 Ultimate for Android