Tak pernah tertawa seperti ini, padahal lagi agak stres sama kerjaan di kantor.
#kagetwaktumaupulang
#36hourstoreuinonwithTheMahmuders
>:D
Selasa, 08 Mei 2012
Minggu, 06 Mei 2012
Fucking Hypocrite..!
Ini betul-betul luapan dari kebencian,
Rasa muak yang amat sangat..
Mungkin beberapa orang juga akan muntah,
Tapi aku tidak, kurasa aku tak perlu membuang energi untuk itu..
Ya, aku ingat aku pernah mendengarkan anjuran-anjuran busuk,
Yang saat itu kau juga melakukan sesuai dengan perkataanmu..
Kenyataannya sekarang kau adalah orang yang menjilat ludah sendiri,
Aku tak tau pasti, tapi kuyakin kau punya seribu alasan untuk membenarkan dirimu..
Dulu aku ingat ocehan-ocehan tentang konsistensi,
Tapi sekali lagi memang dunia punya cara sendiri untuk menunjukkan:
Bagaimana yang paling bersemangat dan lantang menyeru-nyerukan sesuatu,
Itu juga yang pertama kali berbalik arah..!
Dan untukku,
Aku sudah diberi tau kebenaran, laknat bagiku apabila tidak meninggalkan yang salah..
Walau hal itu membuatku ketinggalan zaman dan bahkan terasing dari dunia,
Jelas aku bukan kau dan aku selalu berdoa untuk dijauhkan dari orang-orang seperti itu..
Rasa muak yang amat sangat..
Mungkin beberapa orang juga akan muntah,
Tapi aku tidak, kurasa aku tak perlu membuang energi untuk itu..
Ya, aku ingat aku pernah mendengarkan anjuran-anjuran busuk,
Yang saat itu kau juga melakukan sesuai dengan perkataanmu..
Kenyataannya sekarang kau adalah orang yang menjilat ludah sendiri,
Aku tak tau pasti, tapi kuyakin kau punya seribu alasan untuk membenarkan dirimu..
Dulu aku ingat ocehan-ocehan tentang konsistensi,
Tapi sekali lagi memang dunia punya cara sendiri untuk menunjukkan:
Bagaimana yang paling bersemangat dan lantang menyeru-nyerukan sesuatu,
Itu juga yang pertama kali berbalik arah..!
Dan untukku,
Aku sudah diberi tau kebenaran, laknat bagiku apabila tidak meninggalkan yang salah..
Walau hal itu membuatku ketinggalan zaman dan bahkan terasing dari dunia,
Jelas aku bukan kau dan aku selalu berdoa untuk dijauhkan dari orang-orang seperti itu..
Labels:
poem
Rabu, 02 Mei 2012
Karena Hati Selalu Kalah
Ibu, aku merindukanmu, entah mengapa padahal setiap hari kita selalu bertemu di rumah. Sekarang bahkan setiap hari aku memakan masakanmu. Tapi aku mulai tak yakin, apakah ini memang aku?. Yang kutahu dari dulu aku selalu bercerita kepadamu tentang apa saja. Apa yang sedang kufikirkan, apa yang kubenci, apa yang kuinginkan, segala hal. Aku ingat sewaktu kecil dulu aku pernah mengganggu seekor induk kucing yang sedang menjaga beberapa anak-anaknya yang masih sangat kecil dengan memisah-misahkan mereka lalu kau datang dan sedikit memaharahiku: tidak boleh begitu! gimana kalau kamu dipisahin dari ibu?. Yang kuingat waktu itu aku menjawab spontan: Enggak mau! sambil menaruh kembali anak-anak kucing itu ke induknya. Jika kuingat masa-masa itu sekarang, kadang aku tersenyum sendiri dan kadang terasa menyedihkan. Betapa banyak pelajaran hidup yang kau berikan semenjak aku lahir, selalu mengawal perkembanganku: apabila aku melihat sesuatu maka kau beritahu aku apa yang kulihat itu dan mengapa bisa seperti itu, apabila aku mendengar sesuatu, kau beritahu aku bahwa yang kudengar itu baik atau tidak, apabila aku berbicara maka kau ajarkan aku untuk bertanggung jawab atas apa yang kukatakan. Kenyataannya, sampai sekarang kau tak pernah berubah, tapi aku yang mulai bertanya-tanya apakah aku masih aku?
Sampai sekarang sebetulnya aku belum mengerti bagaimana mengkuti kata hati. Aku adalah orang yang penuh dengan pertimbangan, selalu mempunyai perhitungan jelas atas sikap yang kuambil. Dan kesalahan fatal adalah absennya perasaan dari pertimbangan-pertimbangan tadi karena kuyakin akal dapat menjawab segala hal yang logis. Mungkin kesibukan telah menjauhkan kita yang sebenarnya dekat, sampai aku merasa hal itu sepele dan yang terpenting aku melakukan kewajibanku dengan benar. Untuk beberapa waktu aku memang suka dengan kebiasaan seperti ini, tapi lama-kelamaan rasanya yang melakukan kebiasaan-kebiasaan ini hanya badanku saja, hatiku tertinggal entah dimana. Beberapa waktu yang lalu memang kita sudah bicara banyak, dan kau selalu saja mendukungku dengan keputusan apapun yang akan kuambil, karena sudah percaya, mungkin. Kemarin kita berbicara tentang karir, dan kusampaikan kalau aku ingin mencoba lebih banyak pengalaman, bahkan jika sampai berhenti dari tempat yang sekarang. Lagi-lagi kau mendukungku, aku heran, mengapa kau yang lebih peduli pada hatiku daripada aku sendiri. Bagimu, yang terpenting adalah aku tidak memaksakan diri dan tetap memiliki hati dimanapun berada.
Bagaimanapun, aku akan selalu bercerita kepadamu, berbagi apapun yang kurasa, seperti dulu. Aku akan hidup dengan hati..
For you Mom, with love..
Labels:
poem
Langganan:
Postingan (Atom)
