Wuaaah, apa kabar sahabat blogger semuanya?. Udah lama nih saya gak nulis tentang jalan-jalan lagi, yah, memang karena saya semenjak kerja gak pernah punya waktu, giliran hari Minggu bawaannya mau istirahat aja di rumah. O iya, saya baru aja melewati masa menegangkan di tempat kerja saya yang baru, kemarin kami tutup buku untuk bulan 9 dan saya harus gabung di tengah jalan sama mereka dengan kondisi saya yang gak ngerti apa-apa, hehe. Yah, banyak juga hal lucu sih di kantor saya yang baru ini, mereka masih terlalu awam dengan dunia IT (padahal saya juga), sebelumnya divisi saya ini tidak disupport oleh teknologi informasi, yang penting adalah kontrol fisik dengan metode manual, beberapa waktu yang lalu kebijakan baru muncul dan semua bentuk pelaporan, financial left-right, dan manajemen kendali stock di online kan, dipercayakanlah saya untuk itu, haha, saya aja bingung.
 |
| Salah satu jembatan sungai Asahan menuju Sigura-Gura |
Yah, semoga saya kerasan ya, hehe. Balik ke judul, kok judulnya sama ya sama judul postingan saya yang udah pernah saya tulis?. Hmm, itu karena tadi satu harian di Minggu yang ceria ini saya pakai untuk menyegarkan fikiran saya. Ceritanya gini, beberapa hari yang lalu sebelum diterima di kantor baru saya terserang penyakit yang membuat saya harus beristirahat di rumah beberapa hari, saya gak nafsu makan, berat badan juga ikutan terjun bebas, trus saat itu saya baca tentang terapi kesehatan dengan berlibur. Kebetulan, tadi pagi abang saya yang sedang dinas keluar kota meminta saya untuk mengantarkan mobilnya untuk memasang Lock yang mengaktifkan fitur 4wd-nya. Saya juga gak terlalu ngerti, maka setelah saya ambil dari bengkel, saya telpon balik abang saya dan bilang saya mau pinjam mobilnya satu hari aja untuk jalan-jalan. Setelah dapetin izin, saya ajak si Sugi buat jalan-jalan, tapi yang namanya kota saya gak ada tempat yang asyik, akhirnya tiba-tiba muncul ide Sugi mengajak saya ke daerah Sigura-Gura. Katanya disana ada PT. Inalum, perusahaan aluminium yang punya Dam (bendungan) untuk pembangkit listrik. Tertarik, sayapun meladeni tantangannya, hehe.
Dari kota Rantauprapat kita bergerak pukul 10.00 tepat, kami tak mengetahui sebelumnya dimana tempat itu berada, maka kami beberapa kali bertanya kepada orang. Setelah mendapatkan informasi, ternyata arahnya adalah di Kabupaten Asahan, sebelah utara dari kota kami, hingga kami menuju desa Pulau Raja, di desa inilah simpang ke Sigura-Gura berada. Dari Rantauprapat ke desa Pulau Raja butuh waktu 1 jam dengan jalan yang mulus, berbeda setelah masuk dari simpang ke lokasi tujuan, jalannya tidak selebar jalan lintas Sumatera seperti yang kami lewati tadi, kondisinya juga tidak terlalu baik. Terus mengikuti petunjuk, dan kami mulai memasuki wilayah pegunungan, suhu mulai berubah dingin. Setelah 2 jam melewati pemandangan pegunungan yang indah, sampailah kami di tujuan:
 |
| Gak dikasi masuk ke bendungannya, hiks.. |
 |
| Salah satu sungai yang kami temui |
Sesampainya, kami melihat dari jauh sebuah hamparan air yang besar, seperti danau buatan yang sangat lebar, kami mencoba masuk, tapi oleh sekuritnya tidak diperbolehkan. Padahal dari jauh bendungannya indah sekali lho, airnya biru bersih dan sangat luas dan dikelilingi tembok yang sangat lebar. Sedikit kecewa, Sugi mengajak saya berpindah tempat, di perjalanan memang banyak sungai-sungai dengan tipikal berbatu, cocok sekali untuk rafting, kami penasaran dari mana aliran sungai itu, ternyata dari sebuah air terjun yang tak jauh dari situ.
 |
| Mulai terlihat |
Mengikuti jalan yang kondisinya tidak begitu baik, tapi karena menggunakan tipe mobil memang untuk pegunungan jadi tidak perlu terlalu hati-hati. Dari jauh mulai terlihat garis putih seperti membelah tebing-tebing yang terjal. Memang terdapat beberapa anak air terjun di sekitar sini. Salah satu yang cukup terkenal oleh masyarakat setempat adalah air terjun Ponot.
Namanya cukup aneh terdengar, tapi dari jauh air terjun ini makin indah kelihatannya. Suara berisik dari hempasan airnya juga semakin menarik penasaran kami, hingga akhirnya, jreng.. jreng..
 |
| Air terjun Ponot |
Subhanallah, kesan pertama kami: indah, sejuk, kereeen.. Ya, kami tak pernah tau soal ini sebelumnya, padahal rumah kami hanya berjarak 3 jam dari tempat ini. Air terjun ini berada di wilayah perbatasan kabupaten Asahan dengan Toba Samorsir, makanya banyak pengunjug yang datang dari beberapa kota sekitar situ seperti Porsea, Siantar, Rantauprapat, dan lain-lain. Kalau sudah begini, timbul deh penyakit narsis, terlebih kami tadi meminjam Sony A-230 nya teman saya. Saya gak terlalu ngerti makai gear ini, yang penting bisa buat foto, hehe.
 |
| Pose memuakkan saya seolah gak lihat kamera, haha |
 |
| Coverboy majalah hama tanaman sawit, hehe |
Tempat ini sangat cocok buat keluarga dan rame-rame dengan teman. Masih asri, bersih, dan sejuk. Air terjunnya juga keren buat mandi-mandi, tapi pas tadi kita kesana orang-orang cuma mandi di alirannya, soalnya hempasannya sangat kuat, dari jauh aja kita udah basah kena tempiasan airnya. Ketinggiannya juga lumayan, leher sampe sakit kalo ngeliat dari atas ke bawah. Overall, ini salah satu tempat yang akan jadi tempat favorit saya, andai saja akses jalan ke sana diperbaiki, tentunya akan lebih baik juga buat masyarakat sekitar dan potensi wisatanya. Yah, setelah capek foto-foto, cuci muka dulu sebelum pulang dengan airnya yang cukup dingin, hehe.
Kami pulang sekitar jam 4:15, dan sampai di Rantauprapat pukul 7 malam. Cukup melelahkan, makan malam, istirahat sambil ngobrol-ngobrol sebentar dengan teman yang kebetulan berkunjung ke rumah saya, lalu setelah mereka pulang pindahin foto ke laptop, blogging deh, eh gak nyadar sekarang udah tengah malam, haha. Sudah dulu ya sahabat blogger, besok pagi takut gak kebangun, hehe.
Bagaimana dengan hari minggu sahabat-sahabat semua? :)