Minggu, 24 April 2011

Sunday Morning

Pagi hari di Minggu yang cerah, matahari masih terbit dengan setianya dari timur. Udara pagi yang sejuk, kopi hangat, dan koran pagi. Pagi ini sangat sempurna bagi saya. Pagi ini, seperti tak menginginkan saya untuk bersedih sedikitpun, dari mulai matahari, kicauan burung-burung, dan anak-anak yang bermain setelah pulang subuh dari surau yang berteriak-teriak sambil berlarian, semuanya menyiratkan pesan: "indah bukan? inilah hidup yang sesungguhnya, bukan waktu yang lalu atau waktu yang akan datang, tapi sekarang, ya sekarang..!, saat kedua matamu telah terbuka dari semua kepalsuan, saat kau telah yakin menjadi dirimu, berdiri dengan kedua kakimu karena Dia, dan kau bisa, kau telah bisa..! lalu Dia memberimu masa yang kau jalani sekarang, masa sekarang yang telah dipenuhinya semua yang kau butuhkan, syukurilah.. syukurilah.. Dia tak pernah meninggalkanmu bahkan disaat kau sendiri melupakanNya, dan pagi ini dipertunjukanNya keindahan semesta dan kau sebagai saksinya, indah, maha indah diriMu.."

bersama mentari ku bernyanyi
mewarnai hari-hari
bersama pelangi ku menari
menyambut bebasnya hati ini
tiada lagi yang mampu menghalangi
aku takkan berhenti melangkah
’cause i’m moving on..!

Indahnya suasana pagi itu saya sebut dengan makna alam. Alam yang mengajarkan banyak hal, sangat menghibur hati. Suasana itu terpecah oleh suara dari speaker tetangga yang juga mahasiswa kos-kosan dengan lagunya Mbak Andien. Pertamanya saya agak merasa terganggu sih, tapi kalau didengar-dengar, musiknya fun juga, rasanya saya banget, hehe. Cocok sekali didengar di Minggu pagi yang cerah ini. Lima menitan kemudian, lagunya habis, huh, padahal lagi suka dengar musik nih. Saya masuk ke kamar sambil nyetel sound agak pelan lalu muter lagu yang asik lagi:

Ingin kubuka lembar baru
Untuk meneruskan hidupku
Tak mau lagi kesedihan
Selimuti diriku

Berlari dan terus bernyanyi
Mengikuti irama sang mentari
Tertawa dan selalu ceria
Berikan ku arti hidup ini

Satu lagu yang berjudul Ceria kok rasanya nyambung banget ya sama lagunya Mbak Andien tadi, hehe. Kesenangan yang tak berlangsung lama, karena agak siang sudah janji sama Om Iril main ke rumahnya. Keindahan pagi ini akan terus berlangsung pada pagi-pagi seterusnya, jadi tak baiklah jika saya berlama-lama menikmati pagi ini, toh lebih rame kalau keceriaan ini dapat berbagi dengan keluarganya Om Iril yang heboh itu. Baiklah.. sarapan, mandi, siap-siap, berangkat deh.

Skip..

Rumah yang selalu hangat dan ceria, tapi kali ini salah satu penghuninya tidak bersemangat. Ai yang baru kemarin melaksanakan ujian akhir nasional duduk cemberut. Karena saya orangnya ramah -uwekh..!- saya hampiri Ai yang melamun bego itu. Kenapa Ai? contekannya gak keluar ya waktu ujian? Ai langsung melotot, lalu berkata enak aja ya..! siapa yang nyontek, orang Ai bisa kok. Lho, kalau marah gitu berarti emang nyontek dong, kalau gak kan ya biasa aja, jawab saya. Ih, kakak jahat, udah kemarin ngajarnya bolong-bolong, mana Ai gak ngerti lagi..!. Saya jadi malu dengar jawabannya, tidak tau mau bilang apa lagi lalu saya jawab, hmm, ntar kalau kakak ajarin bagus-bagus Ai nya jadi terlalu pinter, terus saking pinternya jadi sering ke belakang karena sakit perut. Ai tampak heran dan makin marah dengan ucapan saya. Karena sudah skak mat, saya langsung menuju dapur menyapa seisi rumah, hehe.

Sedikit bercerita dengan Om Iril, ternyata tadi malam mereka sedikit berselisih tentang pilihan jurusan Ai kelak. Sang ayah yang bersikeras ingin anaknya melanjutkan profesinya sebagai dokter (heran, kok kebanyakan gitu ya) terbentur oleh keinginan sang anak yang ingin sekolah hukum. Hmm, jadi saya mengerti permasalahannya, kenapa wajah si Ai itu ditekuk kusut seperti itu padahal masih pagi. Saya kembali menghampirinya di ruang nonton. Ih, pagi-pagi nonton gosip..! kata saya membuka percakapan. Biarin, jawabnya. Ai kenapa? kok sedih gitu? susah bab ya? Ai: huh, kakak ada-ada aja, lagi bingung ni. Saya: bingung kenapa? Ai: yang pernah Ai ceritain dulu, ayah gak setuju. Terdiam sejenak, lalu saya mulai bicara, Ai, tau gak gimana sakitnya menyesal? kalau kakak dulu udah pernah ngalamin gimana sakitnya rasa penyesalan itu, dan yang lebih gak enaknya lagi kakak gak bisa mengulang semuanya lagi karena takdirnya sudah begitu. Dulu, kakak orangnya bandel banget lho, bahkan orang tua sendiri dilawan. Sampai akhirnya umur kakak terus bertambah, dan rasanya gak pantas lagi dengan kenakalan-kenakalan itu, ingin merubah semua dan itu semua karena permintaan seseorang. Pastinya kakak kesulitan memenuhi permintaannya itu, tapi dia gak pernah menyerah mendukung kakak, lalu sampai di suatu titik dimana kakak memutuskan untuk memulai berubah, dan hal yang gak pernah kakak sangka sebelumnya, disaat yang sama itu juga kakak menerima kabar bahwa dia telah meninggal. Dalam hati, kakak merasa kenapa tidak memenuhi permintaannya itu saat dia masih hidup, semuanya jadi sia-sia. Tapi, setelah kakak fikir-fikir, tidak ada hal yang sia-sia, kalau sia-sia gak mungkinlah Allah memperlihatkannya untuk kita. Sekarang kakak jadi belajar bagaimana menghargai waktu, yang kita gak pernah tau apa yang akan terjadi selanjutnya, dan sampai sekarang, kakak masih berusaha memenuhi permintaannya itu.

Sesaat kami terdiam, dan saya lihat dia menangis kecil. Lho kok nangis? tanya saya. Iya kak, Ai ngerti, tapi kan kak Ai punya pilihan sendiri, jawabnya. Hmm, kakak gak bilang pilihan Ai itu salah, kakak hanya coba ajak Ai ingat-ingat, siapa sih sosok yang memaksakan untuk masuk jurusan itu, udah berapa lama sih dia hidup sama Ai, apa aja yang dilakukannya, apa sih peran dia dalam hidup Ai? Lalu dijawabnya dengan cepat: Ai gak mau kehilangan ayah..! Yah, kakak juga seperti itu Ai, kakak gak mau kehilangan orang itu, tapi kakak merasa seperti itu setelah kakak gagal memenuhi permintaannya disaat dia masih hidup, sampai sekarang pun kakak masih belum bisa. Tangisnya tampak semakin menjadi, lalu dia coba bertanya kepada saya dengan nada berat menahan tangisannya: siapa orang itu kak?

Ayah..

8 komentar:

  1. what a wonderful morning.

    BalasHapus
  2. >mbak fanny: betul mbak..! wah, terima kasih sudah datang berkunjung di pagi hari yang cerah ini.. :)

    BalasHapus
  3. Wah, dapet pelajaran baru nh tentang sebuah keputusan, bertambahnya umur, menikmati alam yang banyak menyimpan rahasia.
    Makasih mas..
    Follback nh.

    BalasHapus
  4. postingannya di skip dulu
    cuman mau bilang, SAYA KEMBALI

    hahahaha...

    #gakpenting

    BalasHapus
  5. Mksih yah untuk kunjungannya di rumah persahabatan...kok bisa nebak sih kalau itu aku?

    BalasHapus
  6. Kita akan benar-benar sangat membutuhkan kasih sayang orang tua dan bahkan selalu merindukan kehadirannya ketika sosok orang yang kita cintai itu sudah tidak bersama kita lagi.
    saya juga sudah merasakannya

    BalasHapus
  7. wahhhh pilihan juruan emang rada rada sulit gampang. tapi semua tuh dah ada cara nya kok. bisa di test kemampuan. test minat bakat. banyak lah test2 yang bakalan bagus buat narik kelutusan

    BalasHapus
  8. >mas ardian: iya mas, bukan pagi saja, bahkan setiap detik yang terus kita jalani, itu semua kasih Allah, hanya saja kita hanya melihat jika kita merasa itu baik buat kita..

    >mbak cyaam: dasar kamu keong tidak beracun, tapi ruang tamu saya masih hangat kan mbak..? hehe

    >mas fadly: soal kucing itu ya mas, wah.. kalau saya kemungkinan besar pasti saya cuekin, tapi kalo ngikutin tulisan2 nya mas fadly, saya bisa sedikit mengenal karakter mas, dan ternyata benar..! (saya gitu loh, hehe)

    >mas pakies: iya mas, sampai sekarang rasanya masih menyimpan rasa bersalah itu, untunglah ada Allah yang selalu menjadi maha kasih..

    >mas bayu: iya mas, Ai saya rasa emang punya bakat diplomatis, jadi rasanya cocok kalo ke hukum atau manajemen, tapi dia sekarang mau mikir2 lagi kok, semoga memilih hal yang baik baginya dan keluarganya.. amin

    BalasHapus